Laman

Senin, 11 Juni 2012

Cinta dan Pernikahan: Sebuah Karangan Bunga



Bismillahirrahmanirrahim
Allahurabbana, jauhkan kami dari segala keburukan dan kejahatan makhlukMu, baik itu niat maupun perilaku.
Aamiin.
“Hal yang klasik dari cinta adalah ia akan terasa manakala ditinggalkan.”
- one of our brother
Cinta. Cinta. Cinta. Seringkali dijadikan bahasan yang tak pernah bosan untuk diperbincangkan. Meski seringkali ia buntu dalam definisi dan tak masuk logika memaknainya. Tapi, bukan berarti ia tak memiliki arti dan makna yang hakiki dan sejati; tentunya dari yang telah menghadirkan cinta itu sendiri, Yang Maha Memiliki.
Senja bagi kesendirian sepertinya telah mulai turun di Jakarta, begitu pula di kota-kota lainnya di penjuru Nusantara. Entah apakah ada korelasinya atau tidak, kami tidak pernah benar-benar tahu; tapi seiring dengan menjamurnya Janur di Gedung-gedung resepsi, diskusi-diskusi tentang cinta dan pernikahan seolah-olah tidak berhenti masuk ke meja redaksi kami.
Satu hari sebelumnya, seorang sahabat hadir dan menyapa ruang maya dimana kami biasa menggelar taplak-taplak meja di atas meja-meja kayu dengan daun bundar, dengan gelas-gelas coklat hangat untuk menemani ruang diskusi kami. Sahabat tersebut bertanya tentang makna cinta yang impersonal, yang saya maknai sebagai fakta bahwa cinta dalam hati kita adalah amanah yang dititipkan oleh Sang Maha Pemilik Cinta; kita hanya menjalankan tugasnya, sehingga tak berhak atas klaim apapun yang menjadi konsekuensi dari menyampaikan cinta; tidak benar-benar cemburu, tidak benar-benar merasa kehilangan, tidak juga kita berhak untuk mengekang cinta dengan klaim kita; tidak, kecuali pada batas-batas yang telah diizinkan oleh Yang Menitipkan Cinta Pada Kita.
Hari berikutnya, Allah pasti tengah mengingatkan kami tentang apa itu cinta; setelah dua buah bincang menyenangkan tentang interaksi ikhwan-akhwat; yang satu diiringi pertengkaran seru serta tawa lucu yang hadir karena bayi Musa sibuk bermain dengan kue tart, yang lain penuh rasa haru karena diiringi cinta yang tulus seorang guru kepada anak didiknya, serta kritik penuh kasih anak didik tersebut kepada pembimbingnya, seorang sahabat tiba-tiba menyampaikan dua buah pertanyaan yang menarik untuk kita ambil hikmahnya dalam sebuah pembahasan.
Dua pertanyaan tersebut adalah,
1. Mana yang baik, cinta dulu baru menikah, atau menikah dulu baru cinta?
2. Seberapa pentingkah cinta dalam pernikahan?
Kami tersenyum, sahabat tersebut seperti menjelma sesosok malaikat, yang Allah sampaikan langsung untuk memberi kami pengingat tentang hakikat cinta; maka sembari meminta perlindungan kepada Allah dari bisikan syaithan yang senantiasa membuat kami lupa pada hakikat-hakikat kehidupan yang sebenarnya, kami coba jawab pertanyaan tersebut dengan memaknai terlebih dahulu. “Apa itu cinta?”
Ya, apa itu cinta?
Dalam bahasa Indonesia, sulit sekali rasanya untuk mendefinisikan secara pasti, seperti apa rupa cinta sebenarnya. Perasaan kita pada orang tua, apakah itu cinta? Ya, itu cinta. Perasaan kita pada sahabat juga teman halaqah, apakah itu cinta? Ya, itu juga cinta. Perasaan seorang istri kepada suaminya, atau sebaliknya, perasaan seorang suami kepada istrinya, adakah itu cinta? Ya, apalagi itu, itu cinta! Semuanya dalam Bahasa Indonesia disebut Cinta, meski kita sama-sama mahfum bahwa pada kenyataannya, satu dan lainnya sejatinya berbeda-beda maknanya.
Tentu tidak sama rasa cinta kita pada orang tua, pada sahabat, dan pada pasangan hidup kita. Tapi tiga-tiganya sama-sama kita sebut cinta, padahal sejatinya berbeda, bukan?
Jika kami boleh menyimpulkan, inilah salah satu karakter dalam bahasa kita; banyak kenyataan yang berbeda yang hanya direpresentasikan oleh satu kata yang sama, sehingga secara keilmuan, menghadirkan tantangan tersendiri untuk mendefinisikan.
Jika kami boleh menggambarkan, dalam bahasa Indonesia, cinta sebenarnya adalah sebuah kata umum, yang menjelaskan suatu rangkaian dari rasa yang sifatnya jauh lebih khusus.
Sederhananya begini, mari kita bayangkan sebuah karangan bunga. Terangkai dari bermacam mahkota dengan ragam rupa, ranah warna, dalam berbagai bentuk yang berbeda-beda. Karangan bunga yang berbeda dapat ditujukan untuk kesempatan dan acara yang berbeda-beda. Karangan bunga mawar dua warna dapat ditujukan untuk sebuah momen yang menunjukkan romansa yang kental, mungkin dengan gelas-gelas kristal dan candlelight dinner? Karangan bunga yang berbeda mungkin dapat ditujukan untuk sebuah acara makan malam keluarga, belasungkawa, atau ucapan selamat seorang sahabat yang baru saja menamatkan pendidikan doktoratnya.
Seperti apapun komposisi bunga di dalamnya, ditujukan untuk acara apapun, mewakili kesempatan apapun, karangan bunga hanya memiliki satu nama; Ya, karangan bunga!
Sekarang, mari kita coba analogikan cinta sebagai karangan bunga. Pada cinta juga terdapat bunga-bunga rasa yang berbeda-beda, dengan komposisi yang berbeda untuk setiap kesempatan cinta yang juga berbeda. Ada karangan bunga merah-putih untuk suami/istri tercinta. Bunga Matahari untuk mereka yang selalu kita perhatikan langkahnya. Ada juga karangan belasungkawa bagi mereka yang pernah bersetia mengisi hari-hari kita, tapi dipanggil pergi terlebih dahulu oleh Yang Sejatinya Sangat Mencintai dirinya.
Kembali ke pertanyaan semula tentang cinta, untuk memutuskan sebuah jawaban tentang cinta, bijak adalah memahami komposisi apa saja yang mungkin terdapat dalam sebuah cinta.
A. Dalam sebuah cinta, bisa dipastikan hadir apa yang disebut sebagai afeksi, “kasih sayang.” Ini adalah jenis rasa seperti apa yang kita miliki terhadap keluarga, saudara, atau sahabat-sahabat kita.
B. Ada juga yang disebut care, atau perhatian. Ini yang terjadi saat kita memikirkan orang-orang terdekat yang mungkin sedang sakit atau dalam perjalanan, misalkan. Keinginan untuk mengirimkan pesan singkat untuk sekedar menanyakan kabar, atau perkembangan pekerjaan yang selalu mereka keluhkan, itu adalah perhatian. Perhatian pada cinta memegang peran penting karena ia cenderung mengharapkan kebaikan serta keselamatan bagi mereka yang begitu kita perhatikan.
C. Perhatian ini, pada tingkatan tertentu, biasanya menghadirkan komposisi lain dari cinta, yaitu service, rasa ingin membantu, melayani, dan juga memberi. Pada tingkatan ini, biasanya seseorang begitu menderita apabila tidak dapat menyampaikan bantuan atau pemberiannya kepada orang yang dicintainya.
D. Pada cinta jenis tertentu, ada juga apa yang disebut passion, atau eros, lebih dekat dengan syahwat dalam terminologi Islam; sifat dari rasa ini biasanya possesif dan physical. Rasa ini juga yang biasanya bertanggung jawab atas kecemburuan. Biasanya terdapat pada cinta seorang suami terhadap istrinya, dan juga berlaku sebaliknya.
E. Selain hal-hal tersebut, dalam cinta juga terdapat interest, yaitu minat, atau ketertarikan. Biasanya menghadirkan kerinduan, rasa senang ketika berdekatan, dan ruang kosong yang khas dalam dada ketika yang diminati tak sedang berada dekat dengan kita.
Nah, inilah sebagian besar komposisi dari apa yang dalam bahasa Indonesia disebut sebagai cinta.
F. Namun, sebenarnya ada yang lebih dalam maknanya tentang cinta, yaitu yang disebut rahmah. Rahmah adalah cinta kasih yang muncul atas kesadaran bahwa Allah adalah Ar-Rahman. Konsekuensi akhlakiyahnya adalah mencintai segala sesuatu yang dicintai Allah SWT. Seperti yang dapat dilihat dari penjabaran 8 Definisi cinta dalam Al-Qur’an. [1]
Pada bahasan tersebut, dikatakan bahwa jenis Cinta Rahmah adalah jenis cinta yang penuh kasih sayang, lembut, siap berkorban, dan siap melindungi. Orang yang memiliki cinta jenis rahmah ini lebih memperhatikan orang yang dicintainya dibanding dirinya sendiri. Baginya yang penting adalah kebahagiaan sang kekasih meski untuk itu ia harus menderita.
Ia sangat memaklumi kekurangan kekasihnya dan selalu memaafkan kesalahan kekasihnya. Termasuk dalam cinta rahmah adalah cinta antar orang yang bertalian darah, terutama cinta orang tua terhadap anaknya, dan sebaliknya. Dari itu maka dalam al Qur’an, kerabat disebut al-arham, dzawi al-arham, yakni orang-orang yang memiliki hubungan kasih sayang secara fitri, yang berasal dari garba kasih sayang ibu, disebut rahim (dari kata rahmah).
Sejak janin seorang anak sudah diliputi oleh suasana psikologis kasih sayang dalam satu ruang yang disebut rahim. Selanjutnya di antara orang-orang yang memiliki hubungan darah dianjurkan untuk selalu bersilaturahim, atau silaturahim artinya menyambung tali kasih sayang. Suami istri yang diikat oleh cinta mawaddah dan rahmah sekaligus biasanya saling setia lahir batin-dunia akhirat.
Lalu, ada yang bertanya: “Lebih baik mana, mencintai terlebih dahulu lalu menikah, atau menikah dulu lalu berusaha untuk mencintai?”
Seperti yang telah disepakati sebelumnya tentang analogi cinta sebagai rangkaian bunga, maka rangkaian bunga yang kita berikan pada kedua orang tua (biasanya terdiri dari afeksi, service, care, dan rahmah), tentunya berbeda dengan rangkaian bunga yang kita miliki untuk suami/istri, yang biasanya lebih kental unsur passion dan care-nya.
Lantas, untuk calon suami/istri? Dalam hal ini, kami tidak memiliki hak untuk berpendapat; sebab Allah melalui RasulNya telah terlebih dahulu menyampaikan pendapatNya.
Dalam sebuah hadits yang disampaikan oleh Abu Hurairah radhiyallahu‘anhu, ada kisah tentang seorang sahabat yang datang dan mengabarkan kepada Rasulullah Shallallahu‘alaihi wa sallam bahwa dia telah melamar seorang wanita dari kalangan Anshar. Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya:
أَنَظَرْتَ إِلَيْهَا؟ قَالَ: لاَ. قَالَ: فَانْظُرْ إِلَيْهَا فَإِنَّ فِي أَعْيُنِ اْلأَنْصَارِ شَيْئًا
“Apakah engkau telah melihatnya?”
Lelaki itu menjawab: “Belum.”
Rasulullah Shallallahu‘alaihi wa sallam berkata: “Hendaklah engkau melihat terlebih dahulu karena pada mata wanita-wanita Anshar ada sesuatu.”[2]
Para ulama menyimpulkan, bahwa hadits tersebut menganjurkan kepada kita untuk melihat terlebih dahulu calon istri/suami kita, supaya hadir dalam diri kita interest atau ketertarikan, atau dalam bahasa Indonesia dikenal juga dengan istilah kecenderungan.
Apakah kecenderungan bisa diartikan sebagai cinta? Dengan cara pandang tertentu, tentu saja bisa. Tapi jangan sampai terlalu kental passion-nya, agar tidak menjadi posesif, apalagi sebelum takdir Allah mengikat hubungan keduanya dengan pernikahan yang sah.
Toh pada perjalanannya, rangkaian pada cinta biasanya bertransformasi. Sebagaimana cinta pada teman halaqah yang juga berubah, terkadang unsur service lebih banyak bermain, terkadang hanya ‘sekedar’ care. Tak jarang juga hadir kebencian yang mewarnai pertengkaran-pertengkaran (ya, benci juga termasuk salah satu komposisi cinta), besoknya bermaaf-maafan sambil saling bertangisan.
Inilah dinamika komposisi cinta, suatu hal yang niscaya. Dapat kita lihat bahwa karangan bunga cinta selalu dinamis, ini yang menjadikannya begitu manis. Dinamika ini yang menjadikan cinta begitu menarik hati manusia; coba bayangkan diri Anda menonton sebuah film yang tidak memiliki dinamika, klimaks dan anti-klimaks, sejak awal hingga akhir alur dan ceritanya datar-datar saja; pasti Anda tidak akan tertarik. Maka tafsirkan sendiri di hati masing-masing, bagaimana rasa cinta Anda dengan dinamikanya; jika ia menggelitik hati, maka mari kita sama-sama syukuri.
Kembali ke soal calon suami/istri, tentu saja “rahmah” tetap harus diutamakan. Karena bila faktor rahmah sudah mengental, maka apa yang dicintai Allah, itulah yang kita cintai. Namun kita jangan sampai juga melupakan faktor diri, karena bagaimanapun kita bukan Rasul, yang oleh Allah memang dijadikan rahmatan lil alamin. Namun pula, bukan berarti kita tidak bisa berusaha meneladaninya, tapi, menjadi realistis juga sangat penting.
Meminjam istilah orang bijak: “Jodoh itu memang di tangan Allah, namun bila tidak kita usahakan, ya tetap akan di tangan Allah!” Dalam ikhtiarnya, tentunya menjadi realistis juga penting. Jangan hanya beralasankan rahmah, misalkan, karena seseorang itu shalih dan faqih, maka kita mau nikahi padahal kita sama sekali tidak memiliki kecenderungan terhadapnya. Kalau sampai begitu, tentu kasihan sekali pernikahannya, karena tanpa kecenderungan cinta akan sulit berkembang. Itulah hikmah dari disyariatkannya Nazhar, atau “melihat” calon suami/istri terlebih dahulu.
Lalu, ada yang bertanya lagi: “Seberapa penting peran cinta dalam sebuah pernikahan?”
Tentu jawabannya “penting sekali”! Tapi kita harus tetap ingat bahwa: “We are the driver, not the passenger in life.”[3]
Kita adalah juru mudi dari rasa. Jadi bukan cinta yang mengendalikan kita, melainkan kita yang mengendalikan cinta kita.
#AnotherPerspective
Saat menemukan keburukan suami/istri, niatkan untuk menutupi dan memperbaikinya karena Allah, itulah cinta.
Saat menemukan kelebihan suami/istri, niatkan untuk mengingatkannya agar tetap rendah hati karena Allah, itulah cinta.
Saat merasa tidak nyaman dengan suami/istri, niatkan untuk bersetia tinggal karena Allah, itulah cinta.
Dan saat merasa begitu nyaman dengan suami/istri, ingatkan kepadanya bahwa inilah kasih Allah, dan itulah cinta.
Ingat bahwa rahmah itu impersonal. Itu adalah kasih sayang Allah langsung kepada hambaNya. Jika ingin menjaga rahmah dalam cinta, maka jangan jadikan kecintaan kepada selain Allah dan Rasulnya jauh lebih besar. Itulah makna kesetiaan dalam Islam. Sebab jika sampai melanggar itu, bisa mencelakakan baik yang dicintai maupun yang mencintai. Na’udzubillah min dzalika.
“Apa itu cinta?” Ya, cinta. Satu kata yang membuatmu tak cukup hanya menggaruk kepala untuk menemukan definisinya. Satu kata yang selalu membuatmu terpaksa menitikkan air mata. Bukan karena lidahmu yang kelu untuk menjabarkannya, ataukah naifnya dirimu untuk mengakuinya. Hanya saja kau terlalu takut akan hati dan pikiranmu sendiri, yang mungkin telah sering menggerus niat yang semestinya lurus. Menyimpangkan segalanya dari yang paling Cinta.
Ah, cinta. Aku pun tak mendapat ringkasannya secara jelas, pun narasinya yang tak tereja. Bukan sekadar ia yang abstrak dan membuatmu bergolak, ia yang samar seiring kencangnya dadamu berdebar, ia yang tersohor picisan namun merayapimu perlahan. Yang aku tahu, ia itu semakin berharga ketika kita tak bisa mendefinisikannya. Ia bukan hanya perhitungan seberapa kau memberi dan menerima, namun menjunjung keseimbangan di antara keduanya. Ia bukan antara aku, kamu atau kita, tapi ia jauh lebih mulia menghadirkan yang Maha Mulia.
- kutipan “one of my letter for my husband.”
Di luar itu semua, yang lebih penting dari memikirkan bagaimana itu cinta dan pernikahan adalah memantaskan diri untuk mendapat yang terbaik. Siapkan ilmu, amal dan mental karena Allah, menjadi ikhwan dan akhwat berkualitas yang memang pantas bersanding dengan hamba Allah yang berkualitas pula.
Wallahualam Bish Shawab
Referensi:
[1] dapat dilihat di rafiq-database.blogspot.com