Laman

Kamis, 14 Juni 2012

Tak Sekadar Aksi


“Ah, ngapain juga? Emang ini bisa merubah keadaan? Memangnya dengan berdemo dan beli-beli aksesoris Palestina bisa membuat Palestina menang?”
Ilustrasi (inet)
Saudaraku, tahukah Anda seberapa besar arti sebuah solidaritas? Seberapa efektifkah rasa itu mencarikan jalan keluar setiap permasalahan. Mungkin Anda akan berpikir aksi-aksi solidaritas ini hanyalah sebuah kekonyolan. Apa pengaruhnya bagi Palestina kalau hanya turun dan berteriak di jalanan? Apa peduli Israel ketika bendera dan foto mereka dihinakan, diinjak lalu dibakar? Toh mereka tetap ganas menangkapi dan mengusir warga Palestina dari tanahnya. Lalu apa pula hubungannya dengan aksi menyamakan foto profil Facebook sebagai wujud solidaritas untuk tawanan Palestina?
“Ah, ngapain juga? Emang ini bisa merubah keadaan? Mungkin pertanyaan ini akan muncul di benak segelintir kita.
Sebelumnya ada sebuah berita menggembirakan untuk kita semua. Setelah melalui perundingan yang alot antara para tawanan Palestina dan pemerintah Israel dan aksi mogok makan yang mereka lakukan selama 28 hari menghasilkan kesepakatan bahwa pihak Israel bersedia melepaskan semua tawanan Palestina. Hal ini juga didukung oleh tekanan yang diberikan dunia Internasional dan keterkejutan Israel pada aksi puluhan ribu Facebookers menyamakan foto profil mereka sebagai wujud solidaritas terhadap tawanan Palestina.
Ternyata solidaritas itu penting. Secara langsung ataupun tidak dia akan mempengaruhi keadaan. Kelihatan memang tidak efektif. Tapi ini menyangkut soal rasa dan perasaan. Perannya tak terlihat secara lahir, tapi bisa dirasakan oleh batin.
Suatu ketika Rasulullah SAW mendapati seorang anak kecil bernama Umair sedang berduka karena seekor burung kecil kesayangannya mati. Lalu beliau bertanya, “Wahai Umair, apa yang dilakukan oleh Nughair?” Nughair adalah sebutan untuk burung kecil itu. Rasulullah Saw pun mengajarkan kita bersimpati pada sesama, bahkan pada seorang anak kecil. Sederhana sekali, hanya karena kehilangan mainan kesayangannya. Tapi inilah simpati. Semua orang membutuhkannya.
Adalah Palestina, sebuah negara yang telah ada semenjak puluhan abad di tanah milik mereka hari ini terancam kehilangan tanah airnya. Hak-hak mereka dirampas dengan cara tak manusiawi oleh kaum perampok, Yahudi. Apa yang bisa dilakukan oleh dunia Internasional ketika melihat kondisi ini? Bahkan saudara-saudara Arab-nya sendiri tak mampu berbuat banyak menyelamatkan jengkal-jengkal tanah Palestina yang dirampas.
Hanya solidaritas. Ya, hanya solidaritas yang saat ini yang saat ini baru kita punya dan persembahkan untuk mereka sebagai wujud rasa peduli. Maka jangan pernah remehkan sekalipun hanya sekadar berbentuk gantungan kunci, pin, sticker, baju dan pernak pernik lain yang ada hubungannya dengan Palestina. Karena dari kepedulian kita bisa memulai segalanya. Dari hal-hal yang sederhana akan menjadi dorongan melakukan yang lebih besar. Anda percaya?
Hal sederhana dari ungkapan kepedulian kita adalah melahirkan doa dan harapan. Setiap simpati kita akan menghasilkan bait-bait doa yang keluar dari jiwa terdalam dan didengar dan diaminkan oleh penduduk langit. Bukankah Allah akan senantiasa mengabulkan doa hamba-hambanya yang tulus? Apalagi doa seorang muslim untuk saudaranya. Kita tak pernah tahu doa dari lisan manakah yang akan membuka pintu kemenangan untuk Palestina.
Barangkali ada yang berkomentar begini, “kalau peduli Palestina jangan sekadar berteriak-teriak di luar. Pergilah ke Palestina dan berjihad di sana.” ternyata tak semudah itu, bagaimana kalau ternyata sebelum kita sempat berangkat udah meninggal duluan? Sementara kita belum menunjukkan apa-apa sebagai wujud kepedulian. So, selagi ada kesempatan mari lakukan apa yang kita bisa perbuat.
Percayalah, kepedulian yang kita ungkapkan adalah kekuatan luar biasa yang mampu menggerakkan keberanian yang selama ini bungkam. Solidaritas kita akan menimbulkan kesadaran dan optimis bahwa ada kekuatan yang siap membantu perjuangan mereka d belakang walau secara lahiriah itu tak terlihat nyata, tapi bisa dirasakan.
Walau hanya dengan foto profil, status-status kepedulian, aksesoris dan doa. Tapi kita tak tahu wasilah mana yang menjadi kunci pembuka kemenangan itu. So, jangan berhenti. Hari ini saudara kita sudah merasakan angin segar kebebasan. Buah usaha dan kesabaran mereka, hasil kepedulian kita dan tentunya jawaban dari setiap doa-doa kita.
Mari hargai sekecil apapun kepedulian itu. Optimislah dan teriakkanlah takbir kemenangan walau hanya di hati kita. Allah tidak akan menyiakan sekecil apapun kepedulian kita.
Tapi terlepas dari semua itu, kenapa harus Palestina? Kenapa tidak yang lain? Mesir, Suriah misalnya. Ya, karena Palestina adalah permasalahan utama kita. Palestina adalah tanah umat Islam. Sejengkal tanah tang dirampas oleh Israel adalah penghinaan terhadap Islam. Dan rakyat Palestina adalah saudara kita. Setiap tetes darah mereka adalah luka yang menyakitkan bagi kita. Maka saudara mana yang tak peduli membela ketika saudaranya disakiti?
“Siapa yang tak peduli dengan urusan Muslim, maka dia bukan lah dari golongan mereka (Muslim),” kata Rasulullah.
Wallahu a’lam.
Sebait doa dan harapan kembalinya Palestina.
Siang terik bumi Kairo, di tengah-hiruk pikuk menjemput kebangkitan.