Laman

Minggu, 11 Desember 2011

Ungkapkan Cinta dengan Menangis..



Menangis punya banyak makna. Ia bisa berarti simbol kelemahan. Bisa juga mencirikan keputusasaan yang amat dalam. Seolah, tak ada lagi titik sinar harapan. Tapi, adakalanya menangis mencirikan hal lain. Ia justru menjadi inti ungkapan cinta yang amat dalam. 

Sering orang bilang kalau menangis justru membuat ketidakberdayaan kian tak berdaya. Tak urung, orang punya anggapan buruk tentang menangis. Menangis merupakan simbol kelemahan. Di sinilah, kenapa orang-orang ingin menunjukkan kekuatan diri dengan tidak menangis. Biarlah darah mengalir, asal air mata tak menetes.

Orang Yahudi begitu mencela anak yang biasa menangis. Selain sebutan cengeng, anak-anak mereka yang mudah menangis dianggap rawan tidak mampu melawan musuh. Begitu pun dengan Jepang. Orang tua di sana akan marah besar mendapati anaknya menangis. Mereka berkayakinan kalau menangis hanya dilakukan oleh mereka yang tidak punya prinsip hidup. 

Di satu sisi anggapan ini mungkin benar. Tapi di sisi lain, cap buruk tentang menangis bisa berdampak fatal buat perkembangan kepribadian seseorang. Tidak tertutup kemungkinan, ketidakmampuan menangis bisa berdampak pada tumpulnya kepekaan. Orang menjadi lebih peduli dengan urusannya sendiri. Bahkan, bisa memunculkan rasa unggul yang berlebihan. 

Pada titik ekstrim tertentu, dampak merasa diri lebih unggul menjadikan seseorang sulit diatur. Kadang, bisa menyuburkan sifat sombong. Pada titik inilah, jalan mulai bercabang. Antara jalan lurus yang telah ditunjuki Allah dengan jalan berkelok sebagai hasil eksperimen diri. Tidak tertutup kemungkinan, sebagai buah dominasi sifat sombong, orang lebih memilih jalan gelap yang masih cari-cari ketimbang jalan terang yang sudah terbentang.

Sejauh itukah dampak salah pandang tentang menangis. Jawaban ini bisa kita lihat dari ciri khas orang Yahudi dan Jepang. Di satu sisi mereka unggul dalam teknologi, tapi di sisi lain lemah dalam kepribadian. Bahkan, bisa dibilang bermasalah. Begitu pun dalam hal agama. Ruhani mereka begitu kering dari sentuhan nilai-nilai samawi. Mereka selalu terjebak dalam hitung-hitungan materi seraya mengesampingkan nilai kemanusiaan, apalagi persaudaraan.

Tengoklah tujuh sahabat Rasul yang menangis menjelang perang Tabuk. Karena jarak tempuh ke Tabuk yang lumayan jauh, sekitar lima belas hari perjalanan berkuda. Ada kebijakan Rasul yang secara terpaksa diterapkan. Kebijakan itu mengatakan bahwa hanya memberangkatkan mereka yang berkendaraan. Atau, bermitra dengan yang berkendaraan.

Sementara, ketujuh sahabat ini tergolong miskin. Mereka tak lagi mampu menahan tangis lantaran tak bisa ikut perang karena tidak punya kendaraan. Dengan sangat terpaksa, mereka pun kembali ke Madinah. Mereka menangis bukan karena takut jatuh gengsi karena tak ikut perang. Tapi, karena kehilangan peluang beramal di jalan Allah.

Peristiwa ini diabadikan Alquran dalam surah At-Taubah ayat 92. “dan tiada (pula dosa) atas orang-orang yang apabila mereka datang kepadamu, supaya kamu memberi mereka kendaraan, lalu kamu berkata, ‘Aku tidak memperoleh kendaraan untuk membawamu.’ Lalu mereka kembali, sedang mata mereka bercucuran air mata karena kesedihan, lantaran mereka tidak memperoleh apa yang akan mereka nafkahkan.”

Tangis ketujuh sahabat teladan itu telah menunjukan satu hal yang teramat kuat: kecintaan mereka dengan panggilan dari Yang Terkasih tak kunjung sampai hanya karena mereka tak berdaya dengan hal yang teramat kecil: kendaraan. Mereka sadar, kesempatan tak berulang dua kali. Belum tentu usia mereka tetap panjang hingga pada panggilan jihad berikutnya. Dalam benak mereka, inilah peluang besar untuk mengungkapkan cinta buat Allah dan Rasul-Nya. Kapan lagi.

Menangis. Begitulah ungkapan dalam dari rembesan iman yang teramat dalam. Sebagai wujud kekuatan cinta seorang hamba yang lemah dalam menunaikan tugas dari Yang Maha Kuat dan Agung. Dan seperti itulah para sahabat Rasul dikenal.

Adalah Abu Bakar Ashshiddiq r.a., seorang khalifah pertama, mendapat gelar khusus dari anaknya, Aisyah r.a. Beliau dikenal dengan rojulun bakiy, atau orang yang mudah menangis. Tangisnya sulit terbendung ketika mendengar bacaan Alquran dari Rasulullah saat shalat di belakang beliau saw. 

Aisyah pula yang tidak setuju ketika Rasulullah saw. menunjuk Abu Bakar untuk mengimami shalat ketika beliau saw. sakit. Aisyah yakin sekali, kalau ayahnya tidak akan mampu membaca satu ayat pun lantaran tak kuasa menahan tangis.

Menangis ternyata tidak cuma didominasi kalangan sahabat generasi tua. Sahabat Rasul yang tergolong remaja pun begitu mudah menangis. Hati mereka begitu lembut, peka dengan sentuhan Rabbani. 

Begitulah Abdullah bin Umar. Putera Umar bin Khattab yang kala itu berusia sekitar enam belas tahun itu biasa dua kali qiyamul lail dalam semalam. Di situlah ia menumpahkan rasa cintanya kepada Yang Maha Pengasih dan Penyayang. Pernah beliau r.a. melewati sebuah rumah yang terdengar suara penghuni membaca Alquran. Hingga ketika sang penghuni membaca, “Hari (ketika) manusia berdiri menghadap Tuhan semesta alam.” (QS. Al-Muthaffifin: 6), Abdullah mematung. Ia seakan sedang berdiri berhadap-hadapan dengan Allah swt. Dadanya pun langsung bergemuruh. Ia menangis.

Imam Ghazali pernah menulis. Suatu kali, Malaikat Jibril dan Mikail menangis. Hal itu terjadi setelah mereka menyaksikan betapa Iblis yang dulunya mulia menjadi hina. Iblis pernah dikenal sebagai al-Abid (ahli ibadah) di langit pertama, az-Zahid di langit kedua, al-Arif di langit ketiga, al-Wali di langit keempat, at-Taqi di langit kelima, al-Kazin di langit keenam; dan Azazil di langit ketujuh manakala di Lauhul Mahfudz namanya menjadi Iblis.

Mendapati tangis itu, Allah swt. bertanya pada Jibril dan Mikail, “Kenapa kamu menangis?” Mereka menjawab, “Ya Allah, kami tidak aman dari tipu daya-Mu.” 

Seperti itulah mereka. Para sahabat Rasul kerap menangis karena takut, harap, dan cintanya menjadi satu tertuju buat Allah swt. Dan begitu pun dengan Jibril dan Mikail. Karena tak seorang pun yang bisa menjamin kalau ia akan tetap dalam hidayah Allah. 

Betapa bahagianya seorang hamba Allah. Ia datang ke dunia dengan menangis, sementara manusia sekelilingnya gembira. Dan kelak, meninggalkan dunia ini dengan gembira, sementara manusia sekelilingnya menangis.



sumber : saksi-online