Laman

Kamis, 24 November 2011

Jangan tanyakan...


JANGAN TANYAKAN APA YANG TELAH ISLAM BERIKAN KEPADAMU,

TANYAKAN APA YANG TELAH KAU BERIKAN UNTUK ISLAM



Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (An Nahl:18)




Satu ayat diatas kiranya cukup untuk memberikan penjelasan kepada kita, bahwa kita tak perlu lagi bertanya apa yang telah Allah berikan kepada kita, karena Islam (dan Iman) adalah merupakan anugrah terbesar dan terindah yang Allah berikan kepada kita. 



Dengan Islam kita dimuliakan di dunia dan akhirat, dengan Islam kita dikeluarkan dari kegelapan ke dalam alam yang penuh cahaya yang terang benderang, dengan Islam kita terlepas dari kebodohon, dengan Islam kita diselamatkan dari jurang neraka, dengan Islam kita menjadi “manusia”, dengan Islam insya Allah kita akan kembali pada-Nya.




Lalu pertanyaan kedua, Apa yang telah kita berikan untuk Islam?





Perlu beberapa saat untuk memikirkannya, dan itupun masih perlu ditambah  beberapa waktu lagi, lagi, lagi, karena hampir tak ada yang telah kita berikan untuk Islam sebelum ini.



Ketika generasi Islam pertama harus berperang mempertahankan panji-panji Islam, berperang dengan kaum kafir jahiliyah, mempertaruhkan jiwa, raga dan harta serta apapun yang mreka miliki, kita belum lahir, kita tidak ikut didalamnya.



Ketika generasi berikutnya, berjuang mempertahankan keutuhan Islam dari ancaman dan perpecahan akibat fitnah kaum munafik, kita juga tidak ikut didalamnya.



Ketika umat Islam dulu berusaha menyebarkan Islam keberbagai wilayah, kita juga tidak ikut didalamnya.



Ketika umat dan generasi terbaik umat ini menyusun mushaf al qur’an, kita juga tidak ada dan tidak ikut.



Ketika umat dan generasi terbaik umat ini mengumpulkan, menyaring dan meneliti ratusan ribu hadits,  sebagai sumber hukum kedua setelah al qur’an,  kita juga tidak terlibat.



Ketika umat dan generasi terbaik umat ini melahirkan karya-karya yang kemudian hari mampu merubah peradaban dunia, kita juga tidak hadir disana.



Ketika umat dan generasi terbaik umat ini berjuang mempertahankan aqidah dan wilayahnya, kita juga tidak ikut;



Ketika umat dan generasi terbaik umat ini menjadi kiblat peradaban dan pelita ilmu pengetahuan, kita juga tidak memberi kontribusi apapun;

Jadi peran kita dimana?  Dimana peran kita yang mengaku umat Islam?


Peperangan mempertahankan keutuhan aqidah, sebagaimana dialami umat-umat terdahulu sudah berlalu,  mushaf al qur’an sudah dibukukan,  Hadits sudah dibukukan, buku-buku karya ulama Islam sudah banyak tersebar,  lalu peran apa yang dituntut dari kita sekarang adalah bagaimana menjaga apa yang telah dengan susah payah diperjuangkan dicapai umat-umat pendahulu kita akan tetap abadi dan lestari dan agar jerih payah dan perjuangan mereka memiliki makna dan tidak sia-sia, itu saja!



Caranya?



Menjaga Laa ilaha ilallah dalam diri dan keluarga kita dari serangan virus-virus kekufuran yang mungkin disebarkan oleh syetan dan antek-anteknya. Sekali mutiara ini tercabut dari hati kita, akan merupakan sebuah bencana yang maha dahsyat, bukan saja dikehidupan dunia, lebih dari itu bencana akhirat akan menunggu dan menjerat kita.



Tak berguna harta benda melimpah,  ketika iman tak lagi berada didalam dada, tak guna lagi wajah tampan rupawan,  ketika iman coreng moreng dan berantakan, tak guna tinggi pangkat jabatan ketika iman menjadi tergadai, tak guna hidup,  jika hanya kan menjadi bahan bakar neraka kelak.



Berjihad untuk membebaskan diri kita dari perbudakan dan penjajahan hawa nafsu – perbudakan, apapun bentuknya, selalu melahirkan orang-orang yang diperbudak, menjadi kehilangan kemerdekaan dan jati dirinya. Orang yang diperbudak oleh nafsu hewaninya,  akan kehilangan kemerdekaannya untuk menghambakan diri pada Allah swt semata, orang yang diperbudak nafsu hewani akan kehilangan identitas kemanusiaannya, sehingga dia lebih menyerupai mahluk lain selain manusia. Orang yang diperbudak nafsu hewaninya hanya akan menjadi budak-budak syetan durjana.



Berupaya meningkatkan ilmu agama dan ilmu lainnya – ilmu adalah satu syarat mutlak sahnya suatu amaliah ibadah. Kita tidak bisa terus menerus dan selamanya berlindung dibalik kata “tidak tahu” sehingga kesalahan-kesalahan kita dianggap wajar, selama kita diberi kesempatan yang sangat luas untuk menutupi defisit ilmu kita. Internet ada, buku banyak, ustadz dan ulama masih banyak disekitar kita, lalu apa lagi alasan kita untuk “tidak tahu” selain karena kemalasan dan kesombongan kita yang sudah merasa pintar dan merasa cukup dengan apa yang ada pada kita.


 Zaman terus berubah, roda kehidupan terus berputar, kita hanya akan lebih banyak menjadi penonton daripada pelakon selama kita masih menggunakan paradigma lama yaitu malas dan sombong untuk belajar.


Berjuang melawan kemiskinan dan kebodohan yang masih membelit sebagian umat – “Seandainya kemiskinan itu bisa dibunuh, niscaya aku yang pertama akan membunuhnya” demikian ungkapan salah seorang sahabat, yang menyadari sepenuhnya betapa bahaya laten yang tersembunyi dibalik kemiskinan dan kebodohan yang membelit seseorang. Bukankah maraknya orang yang menukar akidah dengan beberapa dus mie intant dan sejumlah uang, diakibatkan kemiskinan dan kebodohan yang masih menyelimuti mereka. Bukan hanya kemiskinan dan kebodohan lahiriah sematra, tapi juga kemiskinan akidah dan kebodohan spiritual sebagaian dari mereka, sehingga dengan relatif gampang mereka menukar mutiara akidahnya dengan barang dan uang yang akan habis hanya dalam itungan hari. Dan ini menjadi tanggung jawab kita sekarang untuk memeranginya.



Kita ambil contoh zakat. Ummat Islam di negara ini merupakan mayoritas. Yang tergolong mampu pun banyak. Jika semua ta’at berzakat dan pengelolaan dilakukan oleh yang amanah maka cukuplah digunakan untuk membangun negeri ini, mengentaskan kemiskinan, membangun fasilitas-fasilitas bermanfaan, dan lain sebagainya.

Menghidupkan nilai-nilai Islam dalam perilaku sehari-hari – Islam besar karena umatnya mampu mengaplikasikan nilai-nilai yang diajarkannya dalam perilaku dan kehidupan sehari-hari. Kebarat kata Islam, kesana kita menuju, ketimur Islam bilang, ketimur pula kita mengarah, bukan sebaliknya. Islam adalah Rahmatan lil’alamin, rahmat bagi seluruh alam, dan jika sampai saat ini Islam dan umatnya masih terpuruk dipinggir-pinggir panggung sejarah, itu lebih dikarenakan makin menipisnya nilai – nilai Islam ditengah- tengah kehidupan kita umatnya. 


Tidak ada sesuatu yang besar, jika tidak dimulai dari yang kecil. Jaga akidah mulai dari diri dan keluarga kita dulu, bebaskan diri dan keluarga kita dari nafsu hewani dulu, tingkatkan ilmu agama dan pengetahuan dari lingkungan terkecil dulu, pun demikian dalam memerangi kemiskinan dan kebodohan, Mulai dari yang kecil, Mulai dari diri sendiri dan Mulai dari sekarang, saat ini juga.



Insya Allah jika setiap individu, sekecil apapun bersumbangsih terhadap Islam, maka Islam akan kembali menemukan jati dirinya sebagai agama dan cara hidup yang mampu menjamin umatnya sebagai umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia.



Tanpa dimintapun, Islam akan memberikan timbal balik jauh lebih besar dari pada apa yang telah kita tanam, dari itu, Mulai dari yang kecil,  Mulai dari diri kita, dan  Mulai sekarang. Yuukk.. kita berinvestasi untuk Islam.



Wassalam


Sumber : bahasahati.blogspot.com