Laman

Sabtu, 19 November 2011

Belajar dari Ikrimah

Mengingat Ikrimah bin Abu Jahal adalah mengingat sosok sahabat nabi yang menjadi tauladan dalam beritsar. Ikrimah menjadi contoh kemuliaan pribadi yang mengutamakan kepentingan orang lain. Sejarah mencatat, di antara orang-orang yang termasuk dalam barisan Perang Yarmuk adalah Haris bin Hisyam, Ikrimah bin Abu Jahal dan Suhail bin Amar. Di saat-saat kematian mereka, ada seorang sahabat yang memberinya air minum, akan tetapi mereka menolaknya. Setiap kali air itu akan diberikan kepada salah seorang dari mereka yang bertiga orang itu, maka masing-masing mereka berkata: “Berikan saja air itu kepada sahabat di sebelahku.” Demikianlah keadaan mereka seterusnya, sehingga akhirnya mereka bertiga menghembuskan nafas yang terakhir dalam keadaan belum sempat meminum air itu. 


Dalam riwayat lain diceritakan, bahwa sebenarnya Ikrimah bermaksud untuk meminum air tersebut, akan tetapi pada waktu ia akan meminumnya, ia melihat ke arah Suhail dan Suhail pun melihat ke arahnya pula, maka Ikrimah berkata: “Berikanlah saja air minum ini kepadanya, barangkali ia lebih memerlukannya daripadaku.” Suhail pula melihat kepada Haris, begitu juga Haris melihat kepadanya. Akhirnya Suhail berkata: “Berikanlah air minum ini kepada siapa saja, barangkali sahabat-sahabatku itu lebih memerlukannya daripadaku.” Begitulah keadaan mereka, sehingga air tersebut tidak seorangpun di antara mereka yang dapat meminumnya, sehingga ketiganya mati syahid. 
Dari cerita Ikrimah tentang beritsar, saya teringat tentang ucapan seorang ulama yang mengatakan bahwa mengutamakan orang lain tidak perlu dengan melakukan hal-hal yang besar. Kita dapat melakukan hal-hal sederhana yang mungkin oleh orang lain dianggap remeh. Di dalam angkutan kota misalnya, bantulah orang lain dengan duduk di tempat yang memudahkan orang untuk masuk. Jika tempat duduk yang lain masih kosong, sebaiknya tidak duduk di dekat pintu dengan alasan lebih gampang untuk turun, lebih segar karena terkena angin dari arah pintu atau alasan-alasan yang menyenangkan diri sendiri lainnya padahal hal tersebut justru menyulitkan orang lain yang akan masuk. Begitu pula halnya jika kita menghadiri majelis taklim. Sering kita duduk di tempat-tempat yang justru menyulitkan orang lain yang akan masuk, di tangga atau di dekat pintu masuk misalnya. Padahal tidak terlalu sulit bagi kita untuk mengambil tempat duduk di tempat lain meskipun mungkin tidak senyaman di tangga atau di dekat pintu. 

Satu contoh pengamalan konsep beritsar oleh masyarakat dapat ditemui di Jepang. Jika kita menaiki tangga berjalan, sebaiknya mengambil tempat di bahu kiri, karena bahu kanan biasanya digunakan oleh orang lain yang hendak bergegas menuju tempat lain. Contoh lainnya, pengendara mobil biasanya memberi kesempatan kepada pengendara sepeda untuk menyebrang, utamanya pada jalan-jalan yang tidak menggunakan lampu lalu lintas. Mungkin contoh ini hanyalah contoh kecil, tapi memberikan kenyamanan yang tinggi pada masyarakatnya karena kepentingan orang lain terperhatikan. Masih berkaitan dengan itsar. Contoh yang lain dari Nasrudin Hoja. Meskipun cerita ini bukan sesuatu yang bisa dijadikan teladan. 

Guru Nasrudin Hoja mengajarkan pada Nasrudin, bahwa salah satu ciri pribadi yang mulia adalah dengan mengutamakan kepentingan orang lain. Suatu hari, Nasrudin dan gurunya makan di sebuah warung makan. Pelayan kemudian menyajikan 2 buah piring berisi ikan, yang salah satu piringnya berisi ikan yang lebih besar dari ikan di piring lain. Dengan tangkas Nasrudin mengambil ikan yang besar. Terkejut, gurunya berkata pada Nasrudin 'Bukankah sudah kuajarkan kepadamu bahwa pribadi yang mulia adalah mereka yang mengutamakan kepentingan orang lain?'. Nasrudin menjawab 'Benar Guru, dan saya bermaksud untuk memuliakan Guru.' 

Mudah-mudahan yang kita teladani adalah sikap Ikrimah dalam beritsar, dan bukannya sikap Nasrudin Hoja. 


Waallahu’alam bishshowab. 

sumber : eramuslim