Laman

Sabtu, 07 Januari 2012

Jangan Turunkan Status jadi Suami Kedua



Empat orang pria sedang menunggu shalat di sebuah masjid. Tak tahu bagaimana awalnya, obrolan mereka sampai pada BBM; manfaatnya, biayanya, hingga bahayanya. Menjelang azan tiba, sebuah saran datang dari salah seorang diantara mereka, "Lebih baik kalian tidak membelikan istri BB. Akibatnya bisa seperti saya yang kini menjadi suami kedua."
Meskipun dengan nada setengah bercanda, nasehat lelaki itu ada benarnya. Ia sendiri yang mengeluhkan. Sejak pegang BB, perhatian istrinya jadi berkurang. Ke ruang tamu, ke dapur, ke mana-mana, sukanya mencet-mencet BB. Mau tidur, barang terakhir yang dipegang adalah BB. Bangun tidur, barang yang dicari pertama kali adalah BB. BBM seakan-akan telah menjadi candu.

Mungkin pria itu bukan satu-satunya suami yang statusnya turun menjadi "suami kedua." Mungkin ada pria lain yang mengalami hal serupa. Perhatian istri berkurang, kemesraan menghilang, keakraban merenggang; justru oleh alat/media yang sedianya diniatkan untuk mendekatkan.

Entah itu BB dengan BBM-nya, FB, atau apapun semestinya menjadi sarana untuk mendekatkan yang jauh, dan tak boleh sebaliknya; menjauhkan yang dekat. Apalah artinya kalau kita bisa berbagi cerita dengan orang-orang nun jauh di sana, namun kehadiran kita tak lagi terasa bagi orang-orang terdekat. Apalah artinya kita bisa berbagi kebahagiaan dengan teman-teman lama yang kini jauh di perantauan, namun kehilangan hubungan dengan orang-orang yang kini telah menjadi sahabat.

Apalagi jika itu adalah orang-orang serumah. Suami kita... istri kita... betapa mahal pajak yang harus dibayar untuk hanya meraih kesenangan yang tidak besar. Bukankah BBM, FB dan sejenisnya tak mampu berbuat apa-apa ketika kita mendapat masalah. Apalagi jika sampai jatuh sakit, atau harus istirahat karena lelah. Bukankah suami kita, istri kita... itulah yang nyata di hadapan kita dan semestinya tak pernah menjadi yang kedua hanya karena alat komunikasi atau media.

Kita telah mendapat contoh dari teladan sempurna. Rasulullah beserta keluarganya. Meskipun sibuk berdakwah, bengkak kaki karena beribadah, berjihad fi sabilillah, semuanya tak membuat perhatian dan kasih sayang kepada istri berkurang. Demikian pula istri-istri beliau yang senantiasa ada saat dibutuhkan, senantiasa membangkitkan motivasi ketika menemui kesulitan, senantiasa menjadi penawar ketika menghadapi derita permusuhan, senantiasa memberi kehangatan kasih sayang ketika jalan perjuangan terasa beku dari harapan.

Jika seriusnya ibadah, sibuknya berdakwah, dan lelahnya jihad fi sabilillah tidak mengurangi perhatian dan kasih sayang antara Sang Nabi dan istri, semestinya sebagai umatnya kita malu jika keluarga renggang hanya karena media atau jejaring sosial.

Renungan ini bukan hanya untuk mengingatkan kaum Hawa. Kita kaum Adam juga sering tak kalah parahnya. Maka memanfaatkan jejaring sosial, media, atau dunia maya seharusnya membuat kita lebih berdaya di dunia nyata dan lebih bermakna bagi orang-orang tercinta di sekitar kita.