Laman

Selasa, 20 Desember 2011

Sebuah Kisah Burung Beo


Ada seorang kyai pemilik sebuah pesantren kecil yang punya seekor burung Beo. Burung beo ini pandai sekali bercakap-cakap. Dia memang dipelihara sejak masih kecil oleh Kyai tersebut. Sebut saja namanya Kyai haji Mustafa. 


Kyai Haji Mustafa ini sangat sayang pada burung beonya. Burung beo ini ditaruhnya di depan kamarnya yang memang menghadap teras sekaligus menghadap bangsal kelas pesantrennya. Jadi, hampir tiap pagi hingga sore burung beo tersebut mendengar suara anak-anak pesantren tadarrus Al Quran dan ditambah dengan tiap malam mendengar ceramah agama islam yang memang dilakukan setiap sepuluh menit menjelang waktu tidur. Karenanya, tidak heran kalau burung beo itu selalu melafalkan kalimat-kalimat thayibah setiap kali dia mengeluarkan suara-suara yang meniru suara manusia. Subhanallah, Alhamdulillah, Allahu Akbar, rasanya sudah sering keluar dari mulut burung tersebut. 
Tentu saja dengan suara pelo khas burungnya. Bahkan, jika burung itu sedang tidur lalu ada yang mengagetkannya, maka burung tersebut langsung spontan mengeluarkan kalimat “Astaghfirullah.”. Hal ini membuat Kyai Mustafa kian sayang pada burungnya tersebut. Murid-murid di pesantren itu, karena melihat gurunya begitu sayang, juga ikut menyayangi si burung dan merawat serta menjaganya dengan sebaik mungkin.

Suatu hari, di siang hari yang panas terik, ketika Kyai Mustafa sedang istirahat di kamarnya tiba-tiba dia mendengar sebuah suara yang tidak asing di telinganya. 

“KWAAAKKKK..” Begitu bunyinya. Itu adalah suara khas seekor burung Beo. Spontan Kyai Mustafa melompat dari tidur siangnya dan berlari menghampiri si Burung Beo. Ada apakah gerangan? Ternyata, seekor kucing besar telah menerkam burung beonya. Kucing itu segera berlari melihat kehadiran Haji Mustafa. Darah berceceran di mana-mana dan leher burung beo yang malang itu nyaris terputus. Lidah si Beo menjulur ke luar. Burung kesayangan telah pergi menghadap Allah SWT. Haji Mustafa terpaku melihatnya, hilang kata-katanya, bahkan kesedihan pun tak langsung terasakan karena rasa terkejutnya itu. Innalillahi wa inna ilaihi rajiun. Hanya itu kalimat yang sempat meluncur dari mulutnya.

Hari-hari selanjutnya, Haji Mustafa jadi terlihat murung. Dia tampak semakin sering menyendiri dan mengasingkan diri dari keramaian sekitarnya. Murid-muridnya ikut sedih dan berduka. Melihat gurunya sedih, semua murid di pesantren itu juga ikut sedih dan tak bergairah. Mereka berusaha mencari tahu bagaimana caranya agar guru mereka kembali bersemangat seperti dahulu. Karena biar bagaimanapun, yang mati tidak akan kembali. Maka mereka semua bersepakat untuk membelikan seekor burung Beo yang baru yang juga sudah pandai berkata-kata. Hadiah itu diberikan pada sang guru dengan harapan bisa menghilangkan kesedihan sang guru. 

Demi melihat hadiah dari murid-muridnya, haji Mustafa termenung. Ditatapnya semua murid-muridnya satu persatu. 

“Tahukan kalian, mengapa aku bersedih dan sering menyendiri setelah kepergiaan burung beoku?” Murid-muridnya menggeleng. Dalam hati mereka berkata, apakah hadiah yang mereka berikan tidak memenuhi standar yagn dikehendaki gurunya?

“Aku bersedih bukan karena kehilangan si Beo. Bukan anak-anak. Aku bersedih karena aku berada di dekat si Beo ketika nyawanya meregang. Aku terkejut, karena si Beo yang lidahnya sudah sangat fasih mengucapkan kalimat Thoyibah, yang mulutnya tak henti memuji Allah bahkan yang terkejutnya pun tak pernah lupa pada nama Allah, ternyata di akhir hidupnya, yang keluar dari mulutnya bukan nama Allah. Burung Beo itu lupa dengan semua kalimat Thoyyibah yang sudah dihapalnya justru di akhir hidupnya. Aku sedih, sangat sedih karena aku takut, jika malaikat datang mencabut nyawaku, aku takut akupun seperti si Beo. Lupa pada Allah.” Naudzubillahi min dzaliik.

Hmm… itu cerita Haji Mustafa dan burung beonya seputar masalah kematian. 

Kematian

Kematian adalah sesuatu yang pasti. Bisa jadi, kematian adalah satu-satunya hal yang pasti di alami setiap manusia. “Dimana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu berada di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh…”(Q.S  An Nisa : 78)

Kita mungkin kelak menjadi orang tua, Kelak mungkin menjadi orang kaya tapi Mungkin pula menjadi orang miskin. Kita mungkin saja mempunyai anak dan keluarga, mungkin juga tidak. Kita mungkin bisa mengalami kesuksesan tapi mungkin saja kebalikannya. Sedangkan kematian ? Setiap kita dapat dipastikan akan mengalaminya. Sesungguhnya, kematian adalah sesuatu yang amat dekat, lebih dekat dari urat leher kita bahkan, namun sering terlupakan. 

Rasulullah pernah membuat garis-garis horizontal di pasir dan mengatakan : “Ini adalah angan-angan manusia,” Kemudian ia manggambar garis-garis vertikal sambil berkata, “Ini adalah hambatan atau kendala dari garis-garis horizontal tersebut.” Kemudian dibuatlah garis yang mengelilingi garis horizontal dan vertikal itu berbentuk kotak di luar kedua garis yang dibuatnya di awal tadi. “Ini adalah kotak ajal manusia. Jika ia selamat dari yang ini (garis vertikal) tentu tak akan selamat dari yang ini (garis kotak)”. Yaitu kematiannya.

Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.”(Q.S  Ali Imran : 185)

Kita sering berpikir soal cita-cita dan harapan hidup. Adakalanya setinggi bintang di langit. Kita ingin bisa seperti A atau B atau C atau siapa saja yang mewakili kriteria “orang sukses” di dunia ini. Dalam mencapai cita-cita tersebut, ada saja hambatan yang akan menghadang. Kita mungkin berhasil melewati berbagai kendala lain, namun tidak mungkin mengatasi kematian. Karena itu, sudahkah kita berpikir soal cita-cita mati : Mati seperti A atau B atau C atau siapa saja yang mewakili kriteria “orang yang sukses” hingga saat kematian datang menghampiri mereka ? Orang yang sukses menghadapi sang maut adalah mereka yang menutupi hidupnya dengan indah (husnul khotimah).

Cita-cita bisa mati dalam keadaan husnul khotimah, itulah cita-cita orang yang ingin sukses hingga titik akhir hidupnya.

Siapa mereka ? Yaitu orang yang menjalani hidup dengan istiqomah (konsisten dengan amal soleh), atau orang yang selalu menjaga diri dari perbuatan dosa juga orang yang terbiasa melakukan evaluasi terhadap setiap amalnya. Mereka adalah orang yang senantiasa menjaga kakinya dari menyambangi tempat maksiat. Mereka juga tidak menggunakan anggota tubuh untuk berbuat dosa. Mereka selalu ingat akan Allah, berbuat karena Allah, untuk Allah. 

Kami tidak menjadikan hidup abadi bagi seorang manusiapun sebelum kamu (Muhammad), maka jikalau kamu mati, apakah mereka akan kekal ? Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan Hanya kepada Kami-lah kamu dikembalikan.”(Q.S Al Anbiya : 34-35).

Hamid Al-Qushairy berkata, “Setiap orang di antara kita yakin akan datangnya kematian, sementara kita tidak melihat seseorang bersiap-siap menghadapi kematian itu. Setiap orang di antara kita yakin adanya neraka, sementara kita tidak melihat orang yang takut terhadap neraka, sementara di antara kita yakin adanya surga sementara kita tidak melihat ada yang berbuat agar bisa masuk surga. Untuk apa kalian bersenang-senang ? Apa yang sedang kalian tunggu ? Tiada lain adalah kematian. Kalian akan mendatangi Allah dengan membawa kebaikan ataukah keburukan. Maka hampirilah Allah dengan cara yang baik.”

Soal kapan dan bagaimana mereka mati tidak menjadi persoalan, karena ini rahasia mutlak Allah.

Bisa saja kematian merenggut kala mereka tergeletak di tempat tidur, ada kalanya di saat kepala tersungkur sujud, ada kalanya pula di medan peperangan bersimbah darah. Atau bisa jadi kematian datang ketika kita sedang tertawa, atau bisa juga ketika kita sedang menangis. Kematian bisa datang ketika kita sedang mengalami kesadaran tapi bisa juga ketika kita sedang tidak sadarkan diri. 

Salman al-Farisi ra, meninggal setelah sakit keras. Menjelang kematiannya, Saad bin Abi Waqqash menengoknya. Saad melihat Salman sedang menangis. Saad bertanya keheranan, “Ya Aba Abdillah, mengapa engkau menangis, padahal Rasulullah saw meninggal dalam keadaan senang kepadamu, begitu pula para sahabatnya.?” Salman menjawab, “Aku menangis bukan karena takut mati atau karena cinta dunia, tetapi aku teringat akan pesan Rasulullah saw, “Hendaklah kalian mencari dunia seperti halnya seorang musafir membawa bekal perjalanannya,” sedangkan engkau melihat apa yang ada di sekelilingku ini “ Sa’ad berkata, “Aku melihat di sekeliling Salman yang ada dalam ruangan itu, tetapi aku tidak melihat kecuali barang-barang yang tidak bernilai lebih dari dua puluh dirham.” Sesudah menjelang ajal, Salman berkata pada istrinya, “Bawalah kemari tempat misk (minyak kesturi) itu. Ambilkan seember air !” Salman lalu memasukkan misk itu ke dalam air, kemudian ia memerintahkan kepada istrinya, “Percikkan air itu ke sekitarku karena sebentar lagi akan datang makhluk Allah yang tidak mau disuguhi makanan, tetapi senang pada wangi-wangian, kemudian kau tutup pintu dan tinggalkan aku seorang diri.” Istrinya berkata, “Aku melakukan perintahnya dan aku menunggu sebentar di luar kamar. Tak lama, aku mendengar suara lembut dari dalam, lalu aku cepat-cepat masuk dan ternyata ia sudah meninggal dunia.

Innalillahi Wainna ilaihi rajiun. Sesungguhnya segala sesuatunya itu berasal dari Allah dan akan kembali kepada Allah. 

Kita memohon kepada Allah atas karunia dan Kasih-Nya, agar dijadikan golongan orang-orang yang bersegera mengejar ketertinggalan (dalam beramal), termasuk dalam golongan orang yang berhati-hati dengan datangnya kematian, mempersiapkan bekal diri sebelum mati, dan mengambil manfaat dari segala petunjuk serta nasehat.

“Ya Rabbi, sungguh kami telah mendengar seruan yang menyeru kepada iman : “Berimanlah kamu kepada Tuhanmu,” maka kamipun beriman. Ya Tuhan, ampunilah dosa-dosa kami dan hapuskanlah kesalahan kesalahan kami, serta matikanlah kami beserta orang-orang yang banyak berbuat kebajikan. Ya Rabbi, berilah kami apa yang telah Engkau janjikan kepada kami dengan perantaraan rasul-rasul-Mu, dan janganlah Engkau hinakan kami pada hari kiamat nanti. Sungguh Engkau sama sekali tidak akan pernah menyalahi janji". (Q.S Ali Imran : 193-194)

“Ya Tuhan, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami serta memberi rahmat kapada kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang merugi.”(Q.S Al A'raf  : 23)

“Ya Allah, Engkau adalah Tuhanku, yang tiada Tuhan pantas disembah melainkan Engkau yang telah menciptakan diriku. Aku adalah hamba-Mu, yang dengan segala kemampuanku perintah-Mu aku laksanakan. Aku berlindung kepada-Mu dari segala kejelekan yang aku perbuat terhadapMu. Engkau telah mencurahkan nikmatMu kepadaku, sementara aku senantiasa berbuat dosa. Maka ampunilah dosa-dosaku. Sebab tidak ada yang dapat mengampuni dosa kecuali Engkau.”

‘Allahumma, ampunilah kesalahan-kesalahan, kesengajaan, kebodohan dan keterlaluanku, serta dosa yang terdapat pada diriku.”

“Allahumma, perbaikilah urusan agamaku yang menjadi pegangan bagi setiap urusanku. Perbaikilah duniaku yang disitulah urusan kehidupanku. Perbaikilah akhiratku yang kesanalah aku akan kembali. Jadikanlah hidupku ini sebagai tambahan kesempatan untuk memperbanyak amal kebajikan, dan jadikanlah kematianku sebagai tempat peristirahatan dari setiap kejahatan.”

Aamiin, Allahumma Aamiin.

 


sumber : kafemuslimah.com