Laman

Sabtu, 03 Desember 2011

Kisah 2 Muallaf



Ini adalah kisah dua orang pemuda dari negri tirai bambu, Cina. Kisah ini dituturkan langsung oleh oleh Ustadz Ishaq, seorang mudir (direktur) Institut Bahasa Arab di...Guangzhou, Cina pada muhadharah (pertemuan) singkat yang diadakan di ruang serbaguna Ma’had ‘Aly Annu’aimy. Beliau menuturkan pengalamannya, bahwa pernah ada kejadian dua orang pemuda yang masuk ke dalam Islam tanpa sepengetahuan orang tua mereka. Pemuda pertama, ketika masuk Islam dan kembali ke rumahnya, tanpa melihat-lihat keadaan dia langsung mengiklankan kepada orang tuanya mengenai keislamannya dan berkata dengan tegas, “Saya sekarang telah menjadi orang Islam, jadi saya tidak boleh lagi makan bersama kalian. Karena yang kalian makan itu banyak yang tidak halal, seperti daging babi. ”.

Orang tuanya kaget sekali dengan penuturan anaknya itu, bagaimana mungkin anak yang sudah mereka besarkan dengan susah payah malah memilih mengambil jarak dengan mereka, air susu dibalas air tuba. Kedua orang tuanya menganggap bahwa ini pasti akibat keislamannya, otomatis keduanya jadi semakin membenci Islam. Pencitraan buruk mengenai Islam seolah menjadi nyata di hadapan mereka dan berita yang dulunya hanya sebagai isu belaka sekarang baginya menjadi nyata. Inilah kisah pemuda pertama. Adapun pemuda kedua, ketika kembali ke rumahnya seusai mengikrarkan keislamannya, dia tidak langsung memberitahukan keislamannya kepada kedua orang tuanya sebagaimana pemuda pertama. Namun dari sisi sikap terhadap orang tuanya dia juga berubah sebagaimana pemuda pertama, hanya saja perubahan sikapnya berbeda jauh dengan pemuda pertama.

Bila pemuda pertama langsung menjaga jarak dari orang tuanya, maka pemuda kedua malah semakin mendekat kepada orang tuanya. Begitu pulang dia langsung membantu kedua orang tuanya. Tidak seperti biasanya karena kali ini dia jadi anak yang sangat giat dan penurut. Hal ini membuat kedua orang tuanya bertanya-tanya, apa sebenarnya hal yang merubah sikap anak mereka itu, rasa kagum bercampur penasaran yang membuncah memenuhi benak mereka.

Hingga akhirnya kedua orang tuanya langsung menanyakan hal tersebut kepada si pemuda, disaat itulah sang anak baru mengumumkan bahwa dia telah masuk Islam. Hal itulah yang kemudian mendorong mereka untuk mengikuti jejak anaknya untuk mengikrarkan dua kalimat syahadat.

Ikhwah fillah rahimakumullah, cerita ini memang singkat dan sekilas biasa saja bagi beberapa orang. Tapi dibalik kisah ini ada sebuah pelajaran berharga yang bisa kita petik dan sarikan ke dalam kehidupan nyata kita. Ini adalah pelajaran untuk bersikap proporsional dan tidak tergesa-gesa, ini juga pelajaran untuk bersikap dan berakhlak baik di tengah masyarakat. Pemuda pertama mungkin bukannya tidak mau bersikap baik, hanya saja ‘ semangat’ dia yang tidak terkontrol itulah yang menjad biang keladinya. Semangat dia terlalu besar untuk langsung mengiklankan keislamannya hingga akhirnya dia salah melangkah dalam memilih cara terbaik dalam melakukannya. Dia tidak bisa bersabar atas ‘perbedaan’ yang ada diantara dia yang muslim dengan kedua orang tuanya yang non-muslim. Karena sikap kesusu (terburu-buru) itu dia salah melakukan opening dalam berbicara.Mungkin maksudnya ingin menyampaikan kepada kedua orang tuanya agar memeluk Islam seperti dia, tapi caranya itu tidak tepat dan malah mengakibatkan hal sebaliknya, menambah kebencian kedua orang tuanya terhadap Islam.

Masalah makanan saja sampai dia besar- besarkan di hadapan orang tuanya, padahal sebenarnya untuk masalah itu bisa disiasati dengan membeli lauk makanan sendiri misalnya, atau bisa mengusulkan ide menu makanan halal kepada orang tuanya. 

Di dalam keseharian kita pun kita bisa menemui banyak contoh kasus seperti ini. Misalnya saja kisah yang pernah dituturkan oleh Syaikh Abbas Assisi mengenai kisah sekelompok pemuda yang mendatanginya menutarakan keinginan mereka untuk menghentikan rencana konser musik. Mereka mengatakan kepada Syaikh Abbas bahwa mereka ingin mengentikan paksa acara konser musik itu yang telah banyak membuat para pemuda menjadi lalai. Syaikh Abbas sudah memperingatkan mereka agar bertindak lebih halus dan rapi,dengan dialog yang dilakukan secara halus dan tidak harus langsung ‘menusuk’ dengan kalimat keras dan kasar. Namun para pemuda tersebut tetap menolak sambil berkata, “Tidak, kami akan mengatakan kepada mereka bahwa musik itu haram..!!” Inilah contoh orang yang tidak melihat keadaan dahulu sebelum bertindak, andaikan jadi maling pasti mereka sudah berulang kali digebug massa. Janganlah lantaran berkilah dengan‘ izzah’ (harga diri) dan ‘idzharul haq’ (menonjolkan kebenaran) lantas membuat mata kita buta dari memandang realita masyarakat yang ada. Tujuannya memang memenangkan kebaikan, tapi apakah untuk memenangkan kebaikan itu harus menggunakan cara yang justru dapat membuat kebaikan menjadi kalah …???

Nah ikhwah fillah rahimakumullah, ternyata sikap pemuda pertama (dan siapapun yang meniru mereka) itu malah berdampak negatif. Kita memang diajarkan untuk bekerja serta tidak memusingkan hasil yang akan diperolah, diperintahkan untuk berdakwah tanpa memusingkan apakah orang akan menerima kebaikan yang kita bawa atau tidak, karena hasil itu kekuasaan absolut Allah. Tapi itu tidak berarti kita boleh berbuat seenaknya dan melupakan tujuan yang kita lakukan di dalam dakwah itu sendiri, yaitu mengajak manusia pada kebaikan. Bila kita sekedar bekerja tanpa berorientasi hasil, maka kita akan bekerja semaunya dan malah keluar dari jalur yang harusnya ditempuh. Kita tidak diperintah membuat semua orang menjadi Islam dan mematuhi seluruh apa yang Allah perintahkan, tapi yang diperintahkan kepada kita adalah usaha semaksimal mungkin dengan cara sebaik mungkin untuk memperkenalkan Islam sebagai agama yang benar sekaligus rahmat bagi semesta, dengan begitu manusia akan mau masuk Islam dengan penuh ke ridhoan. Terlalu manis rasanya bila kita kita bayangkan seperti itu, bagai di alam mimpi, tapi itulah kenyataan yang terjadi di kisah yang telah kita bahas diatas.

Wallahua ’lam..

Sumber: http://esatrio.blogspot.com