Laman

Rabu, 21 Desember 2011

Bergesernya Sebuah Pemahaman



Perang pemikiran dewasa ini sudah demikian hebat metode dan pengaruhnya. Kesalahan dalam pemahaman terhadap nilai-nilai agama hampir terjadi pada seluruh lapisan masyarakat. Norma pergaulan yang dulu dipegang dengan cukup erat oleh masyarakat pun kini mulai tidak dilirik lagi atau setidaknya sudah mulai mengalami pergeseran nilai. Tak pelak media informasi, khusunya media massa adalah sarana yang paling efektif untuk melancarkan perang pemikiran ini. Kita seolah merasa mendapat suatu ilmu, kemajuan, teknologi, dan kebudayaan baru padahal sejatinya kita sedang dijajah. Tentu penjajahan yang terasa enak ini tidak akan membuat kita terbangun dari tidur yang panjang.
Sesuatu yang dahulu dianggap baru dan tabu kini sudah dianggap wajar bahkan seolah bukanlah suatu hal yang aneh jika dilakukkan. Bahkan oleh sebagian kalangan, orang-orang yang tidak melakukan hal ini yang baru dan tabu - dianggap sebagai orang yang aneh dan orang yang tidak mengikuti perkembangan zaman.

Sekedar sebagai contoh, zaman dahulu kalau ada orang yang bergandengan tangan berdua laki-laki dan perempuan- maka pada lain hari orang tersebut akan ditegur oleh orang lain, karena hal ini dianggap tidak sopan. Tetapi apa yang terjadi saat ini. Jangankan bergandengan tangan, melakukan sesuatu yang lebih dari itu di keramaian pun bukan berarti boleh dilakukan di tempat yang sepi- bukanlah suatu hal yang sulit untuk dijumpai.

Hal yang penulis alami penulis tulis di bawah - menurut penulis mewartakan hal yang sama, yakni bahwa sedemikian bergesernya pemahaman kita akan nilai-nilai yang seharusnya kita anut.

Suatu petang di pinggiran kota Jakarta ada seorang ibu yang memarahi putrinya karena memanggil kakaknya yang sedang berduaan di kamar bersama tunangannya. Si ibu tadi memarahi putrinya dengan alasan tidak sopan memanggil kakaknya yang sedang berada di kamar.

Yang kemudian menjadi pertanyaan ialah siapa yang sebenarnya tidak sopan. Menurut penulis adalah tidak sopan dan tentu saja tidak dibenarkan oleh agama dua orang yang belum ada ikatan resmi dalam suatu perkawinan terlepas sudah tunangan ataupun belum- berada di sebuah kamar dalam waktu yang bersamaan. Namun anggapan si ibu tadi -boleh jadi anggapan beberapa orang lain- adalah suatu hal yang wajar apabila ada dua orang yang belum menikah berada di sebuah ruangan tanpa ada orang ketiga.

Penyimpangan-penyimpangan seperti inilah yang merupakan hasil dari penjajahan pemikiran atau dalam bahasa arab dikenal dengan istilah Ghazwul Fikri. Penjajahan ini makin membawa hasil karena (celakanya) kita adalah bangsa yang kerap mencontek habis apa yang datang dari barat sambil menanggalkan satu per satu ajaran agama yang masih melekat. Mayoritas dari kita adalah orang-orang yang menganggap apa yang diperoleh dari barat adalah suatu pelajaran yang baik, suatu hal yang modern, suatu hal yang sangatlah pantas untuk dicontek habis-habisan tanpa melalui suatu saringan. 

Dan celakanya lagi hal ini dicontohkan dengan baik oleh para pembesar bangsa ini. Para pembesar bangsa ini daya tidak mau menyebutnya sebagai pemimpin - dengan patuhnya melaksanakan apa yang telah menjadi pesanan bangsa adidaya. Para pembesar bangsa dengan hebat memainkan tokoh sebagai kerbau yang dengan mudahnya dikendalikan oleh orang yang memegang talinya.

Akhirnya muncul sebuah kekhawatiran, akankah anak cucu kita menjadi orang-orang yang terjajah pola pikirannya. Sangat wajar jika kekhawatiran ini muncul seiring dengan makin maraknya media massa tak mendidik yang dengan mudahnya lewat di depan hidung dan mata kita.

Jangan-jangan semua sepertinya sepakat akan jangan sampai generasi kita menjadi seperti itu. Langkah yang perlu kita lakukan adalah pembekalan agama sejak awal dan dimulai dari lingkungan terkecil yakni sebuah keluarga. Tak bisa kita ingkari bahwa keluarga memegang peranan penting dalam pendidikan dan pembentukan kepribadian anak. So kata kuncinya pilihlah pendamping karena agamanya, bukan karena lainnya.

sumber : alhikmah.com