Tidak pernah ada dua pemenang dalam setiap pertempuran. Sebagaimana bulan dan matahari yang tidak pernah menampakkan cahaya sama terang dalam waktu bersamaan. Satu menang dan yang lainnya harus kalah. Seperti itulah kejadiannya, dalam seluruh pertempuran. Bahkan pertempuran diri kita dengan impian-impian kita sendiri yang ingin kita taklukkan.
Sudah menjadi sifat alam bahwa kita tidak akan pernah mau dan tidak akan pernah rela untuk kalah. Karena kita dicipta sebagai pemenang. Katanya, sebagaimana tayangan film dokumenter, jutaan sel sperma berlomba untuk membuahi sel telur dan hanya ada satu pemenang dalam perlombaan itu, itulah yang menjadi kita.
Kita telah terlalu terbiasa dengan kata menang. Bahkan jauh lebih dari itu, bahwa selalu menang adalah sebuah keharusan dalam segala hal, tanpa kecuali. Karena kata kalah berarti lemah. Karena kata kalah identik dengan ketidakberdayaan atau cukuplah ia seperti kegelapan tanpa cahaya.





