Laman

Tampilkan postingan dengan label kisah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kisah. Tampilkan semua postingan

Selasa, 18 Juni 2013

Hanya Ikhlas yang Dapat Menaklukkan Iblis

 
Ibnu Qudamah menyebutkan suatu riwayat dari al Hasan berkata,”Dahulu pernah ada satu pohon yang disembah selain Allah swt maka datanglah seorang laki-laki yang mengatakan,”Aku pasti akan menebang pohon ini.” Maka ia pun mendatanginya dan ingin menebangnya semata-semata murka karena Allah. Setan yang menyerupai manusia mencoba menghampirinya dan berkata,”apa yang engkau inginkan?’ laki-laki itu menjawab,’Aku ingin menebang pohon ini yang disembah selain Allah.’ dia itu berkata,’Jika memang engkau tidak menyembahnya maka pohon yang disembah ini tidak akan merugikanmu?
Laki-laki itu berkata,’Aku pasti menebangnya.’ Dia berkata kepadanya,’apakah engkau mau sesuatu yang lebih baik daripada menebang pohon ini, jika kamu tidak menebangnya maka kamu akan mendapatkan dua dinar pada esok hari dari bawah bantalmu.’ Laki-laki itu mengatakan,’siapa yang memberikan itu kepadaku.’ Dia berkata,’aku’.

Minggu, 10 Maret 2013

Kisah Pencuri Saleh


Seorang pemuda lugu menuntut ilmu kepada seorang guru fara'idh (ilmu hitung harta waris). Kehidupan ekonomi sang guru sangat pas-pasan. Dalam suatu kesempatan, sang guru berkata kepada murid-muridnya, "Kalian tidak boleh menjadi beban orang lain. Sesungguhnya orang alim yang menengadahkan tangannya kepada orang-orang yang berharta tidak ada kebaikan pada dirinya. Pergilah kalian semua dan bekerjalah seperti pekerjaan ayah kalian masing-masing. Bawalah selalu kejujuran dan ketakwaan kepada Allah dalam menjalankan pekerjaan tersebut!"

Pemuda itu tidak tahu tentang pekerjaan ayahnya yang telah meninggal. Ia pun segera pulang ke rumah untuk menanyakan hal tersebut kepada sang ibu.

Setibanya di rumah, pemuda itu menemui ibunya, lalu berkata, "Bu, tolong beri tahu kepadaku apa pekerjaan sepeninggal ayah dahulu?"

Tidak Takut Dikatakan Bodoh



Imam Malik adalah sosok alim ulama yang rendah hati. Meskipun ia selalu belajar dan menimba ilmu dari 900 orang guru, ia tidak pernah merasa dirinya paling pintar. Imam Malik berkata, "Sering kali aku tidak tidur semalam suntuk untuk memikirkan jawaban atas permasalahan yang diajukan kepadaku."

Suatu hari salah seorang muridnya datang dari suatu daerah yang jauh. Masyarakat tempat ia tinggal memiliki masalah penting yang belum terselesaikan. Sang murid bermaksud untuk menanyakan hal tersebut kepada gurunya, Imam Malik.

Akan tetapi, Imam Malik tidak bisa memberikan jawaban kepadanya karena memang beliau tidak tahu jawaban atas permasalahan tersebut. Dengan sejujurnya, beliau berkata, "Aku tidak tahu."


Kamis, 07 Maret 2013

Tertundanya Kematian


Suatu ketika, Nabi Daud a.s. duduk di suatu tempat. Di sampingnya, ada seorang pemuda saleh yang duduk dengan tenang tanpa banyak bicara. Tiba-tiba, datang Malaikat Maut yang mengucapkan salam kepada Nabi Daud. Anehnya, Malaikat Maut terus memandang pemuda itu dengan serius.

Nabi Daud berkata kepadanya, "Mengapa engkau memandangi dia?"

Malaikat Maut menjawab, "Aku diperintahkan untuk mencabut nyawanya tujuh hari lagi di tempat ini!"

Senin, 04 Maret 2013

Hal-Hal Sederhana yang Tidak Mampu Kita Lakukan


Hal-Hal Sederhana yang Tidak Mampu Kita Lakukan
Diriwayatkan oleh imam Ahmad dengan sanad hasan dan oleh Nasa’i dari Anas bin Malik r.a : Ketika kami duduk-duduk bersama Rasulullah saw, bersabdalah beliau “Atas dirimu semua kini datang seorang dari penghuni syurga”. Waktu itu muncul seorang anshar dengan jenggot sedikit basah bekas air wudlu, sambil menjinjing kedua sandalnya dengan tangan kirinya. Esok harinya Nabi saw kembali berkata demikian dan muncul pula orang tersebut seperti itu lagi, muncul pula lelaki itu seperti sebelumnya.
Tatkala Nabi saw berdiri, Abdullah bin Amru bin Ash segera mengikuti orang lelaki tersebut dan berkata kepadanya “Sesungguhnya saya telah bertengkar dengan bapak saya dan bersumpah tidak akan mendatanginya selama tiga hari. Seandainya akhi (saudara) mengizinkan saya tinggal di rumah akhi selama tiga hari itu, niscaya aku akan ikut akhi pulang”, “lelaki itu menjawab “Ya silahkan”, kemudian Abdullah menceritakan bahwa selama tiga hari tinggal bersamanya, tak sekalipun ia melihat lelaki itu melakukan shalat malam, kecuali setiap lelaki itu berbalik dalam tidurnya dia menyebut nama Allah dan bertakbir hingga terbangun untuk melakukan shalat subuh. Abdullah menambahkan, “Hanya saja saya tidak mendengarnya berkata selain dengan perkatan yang baik”.

Kucing dan Kedudukannya Dalam Pandangan Islam


Banyak mitos yang bertebaran disetiap kehidupan kucing mulai dari memiliki 9 nyawa hingga sebagai jelmaan dewa. Seperti yang terjadi pada masa dinasti Fir’aun 3000 tahun yang lalu, kucing amat dipuja karena dianggap sebagai titisan dewa.
Lain di Mesir lain pula di Eropa, di dataran ini kucing dianggap sebagai sihir setan atau pembawa bencana. Tak pelak lagi, pada masa abad kegelapan terjadi pemusnahan besar-besaran terhadap hewan lucu ini, hingga menyebar ke Afrika Utara. Padahal, wabah yang oleh masyarakat saat itu dianggap sebagai kutukan adalah jenis penyakit pes yang diakibatkan oleh meledaknya populasi tikus dan penurunan populasi kucing sebagai predator.

Inilah Sejarah Ka’bah dari Masa ke Masa


Awalnya, Mekkah hanyalah sebuah hamparan kosong. Sejauh mata memandang pasir bergumul di tengah terik menyengat. Aliran zamzamlah yang pertama kali mengubah wilayah gersang itu menjadi sebuah komunitas kecil tempat dimulainya peradaban baru dunia Islam.
Bangunan persegi bernama Ka’bah didaulat menjadi pusat dari kota itu sekaligus pusat ibadah seluruh umat Islam. Mengunjunginya adalah salah satu dari rukun Islam, Ibadah Haji.
Ka’bah masih tetap berdiri kokoh hingga saat ini dan diperkirakan masih terus berdiri hingga kiamat menjelang. Beberapa generasi pernah menjadi saksi berdirinya Ka’bah hingga berbagai kemelut menyelimutinya.

Kamis, 28 Juni 2012

Berubah Dengan Mimpi-Mimpi Besar



Saya yakin, bahwa kita semua pasti menginginkan perubahan ke arah yang lebih baik. Namun tak semua orang mampu untuk menggapai dan melakukan perubahan itu. Mungkin karena ia merasa belum siap dengan perubahan, atau bisa jadi karena tidak punya nyali (lemah mental, atau tidak mau meninggalkan tabiat dan kebiasaan lama) untuk menerima perubahan itu.
Namun sebagai seorang mukmin seharusnya kita tidak lagi mempertanyakan diri kita siap atau tidak, pantas atau tidak, akan tetapi sebaliknya kita justru harus mencari dan mengejar perubahan itu, karena nasib tidak akan berpihak kepada orang yang hanya berdiam diri saja. “Innallaha la yughayyiru ma bi kaumin hatta yughayyiru ma bi anfusihim”.
Barangkali banyak kisah yang dapat mengetuk pintu hati kita. Dalam berbagai riwayat banyak yang menyimpulkan bahwa perubahan besar sering kali dilakukan oleh insan-insan yang memiliki mimpi-mimpi besar. Mereka yang sayang akan hidupnya yang sementara ini, segera mengambil keputusan untuk melakukan perubahan. Sebut saja seorang pencari hakikat kebenaran (Al-Bahits ‘an al- haqiqah) Salman Al-farisi, sahabat yang menjadi aktor penting dalam perang Khandak.

Senin, 18 Juni 2012

Arqam bin Abil Arqam: Sebuah Peran tanpa Perlu Ketenaran



Sebagian banyak kita dapat dipastikan mengenal sahabat Rasulullah yang bernama Abdurrahman bin Auf. Ia seorang pedagang, yang mana di tangan dinginnya keuntungan berlipat ganda dengan cepat. Ia dikenal dengan salah satu kisah dimana ketika rombongan Rasulullah hijrah dan kaum Muhajirin dan Anshar saling dipersaudarakan, setiap Anshar membagi hartanya kepada setiap Muhajirin. Namun kala itu Abdurrahman yang dipersaudarakan dengan Sa’ad bin rabi’ Al Anshori ditawari satu dari dua istri dan satu dari dua kebun yang sangat luas oleh saudara Ansharnya tersebut, menolak, dan ia berkata “Cukup tunjukkan saja aku di mana pasar”.
Kita juga mungkin mengenal Mus’ab bin Umair, sahabat Rasulullah yang terkenal akan ketampanan dan keglamourannya. Kala itu, ia menjadi trendsetter kalangan muda modis nan trendy. Karena paras dan penampilannya tersebut, Ia menjadi buah bibir gadis-gadis Mekah di manapun ia berada.
Selain kedua nama-nama sahabat Rasulullah di atas, dan para sahabat yang empat, masih banyak lagi nama-nama sahabat yang tenar, yang lumrah kita dengar dan nama beserta kelebihan-kelebihan mereka banyak disebut-sebut dalam sirah nabawiyah.

Jumat, 15 Juni 2012

Khalifah Umar dan Mahar



“Wahai Amirul mukminin, apakah yang wajib kita ikuti itu Kitab Allah ataukah ucapanmu?” seorang wanita dengan penuh keberanian melontarkan pertanyaan kepada Khalifah Umar yang baru selesai berkhutbah. Wanita itu menanggapi pernyataan Umar yang melarang memahalkan mahar. Umar membatasi mahar tidak boleh lebih dari 12 uqiyah atau setara 50 dirham. Seraya menyatakan, “Sesungguhnya kalau ada seseorang yang memberikan atau diberi mahar lebih banyak dari mahar yang diberikan Rasulullah shalallahu alaihi wasalam pastilah aku ambil kelebihannya untuk Baitul mal.”
Muslimah pemberani itu pun kemudian mengutip ayat Allah, “Dan jika kamu ingin mengganti istrimu dengan istri yang lain, sedang kamu Telah memberikan kepada seseorang di antara mereka harta yang banyak, Maka janganlah kamu mengambil kembali dari padanya barang sedikit pun. Apakah kamu akan mengambilnya kembali dengan jalan tuduhan yang dusta dan dengan (menanggung) dosa yang nyata?” (QS: an-Nisa’ [4]:20)

Kepiting Dalam Baskom


Saat menjelang malam, di sebuah tepian pantai, terlihat para nelayan sedang sibuk menangkap kepiting yg biasanya keluar dari sarang ketika matahari terbenam. Kepiting itu tampak berkeliaran & berlarian menyambut ombak.

Para nelayan sangat menikmati buruan mereka. Setelah tertangkap, binatang yg hidup di 2 alam itu segera dimasukkan ke dalam baskom. Uniknya, baskom tersebut tidak perlu diberi penutup untuk mencegah kepiting meloloskan diri.

Di dalam baskom yg berisi puluhan kepiting, terlihat kepiting yg bergerak-gerak terus, seperti hendak mencoba meloloskan diri dari baskom. Capitnya digunakan sekuat tenaga untuk mencari pegangan demi naik ke atas baskom agar bisa keluar. Satu sama lain melakukan hal yg sama. Saling dorong & saling tarik membuat kepiting itu justru tak bisa naik ke atas.

Senin, 11 Juni 2012

Cinta dan Pernikahan: Sebuah Karangan Bunga



Bismillahirrahmanirrahim
Allahurabbana, jauhkan kami dari segala keburukan dan kejahatan makhlukMu, baik itu niat maupun perilaku.
Aamiin.
“Hal yang klasik dari cinta adalah ia akan terasa manakala ditinggalkan.”
- one of our brother
Cinta. Cinta. Cinta. Seringkali dijadikan bahasan yang tak pernah bosan untuk diperbincangkan. Meski seringkali ia buntu dalam definisi dan tak masuk logika memaknainya. Tapi, bukan berarti ia tak memiliki arti dan makna yang hakiki dan sejati; tentunya dari yang telah menghadirkan cinta itu sendiri, Yang Maha Memiliki.
Senja bagi kesendirian sepertinya telah mulai turun di Jakarta, begitu pula di kota-kota lainnya di penjuru Nusantara. Entah apakah ada korelasinya atau tidak, kami tidak pernah benar-benar tahu; tapi seiring dengan menjamurnya Janur di Gedung-gedung resepsi, diskusi-diskusi tentang cinta dan pernikahan seolah-olah tidak berhenti masuk ke meja redaksi kami.

Ilmu Sanad, Warisan Ilmiah Umat Islam Paling Berharga


Umat Islam adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia. Menyeru kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran. Dan, beriman kepada Allah Swt. Hanya umat inilah yang berhak mendapatkan gelar seperti itu.Karena umat ini siang dan malam, tak mengenal lelah berusaha menjaga kemurnian agamanya dari penodaan musuh-musuhnya. Inilah menjadi salah satu bukti kebenaran Islam. Agama yang melekat dalam diri umat ini adalah agama yang haq, sehingga Allah memberkahi mereka dengan yang haq pula.
Salah satu warisan penting umat Islam, kalau tidak dikatakan yang terpenting, adalah sanad. Apa itu sanad? Sanad adalah mata rantai perawi. Misalnya dari si fulan dari si fulan dari si fulan hingga ke Rasulullah Saw. Dengan sanad inilah, Islam terjaga kemurniannya. Al-Qur’an memiliki sanad yang mutawatir. Artinya banyak sekali perawi yang meriwayatkannya, keterangan perawi yang satu membenarkan keterangan perawi yang lain dan semua perawi itu tidak mungkin bersepakat untuk berdusta. Dengan adanya sanad ini, umat Islam tidak seenaknya bicara, sulit untuk berdusta, memalsukan data dan fakta yang seharusnya, dan tidak tercemar oleh akhlak yang buruk. Ketika ada perkataan dusta, maka akan terlihat kedustaannya. Para ulama mempunyai mekanisme ilmiah sehingga mampu dengan mudah mengetahui kedustaan itu. Misalnya, meneliti siapa perawi tersebut; apakah akhlaknya baik, aqidahnya benar, ibadahnya shahih, ingatannya kuat, bukan ahli maksiat dan ahli bid’ah. Bila ada dua hadits yang saling bertolak belakang, maka kedua hadits tersebut harus dikonfrontir;pertama-tama harus diteliti sanadnya terlebih dahulu. Dalam hal ini berkembanglah ilmu jarh wat ta’dil (ilmu yang mengetahui ‘cacat’ tidaknya para perawi hadits)

Krisis Kehati-Hatian



Kehati-hatian adalah bagian dari agama” (Prof. Dr.Rachmat Syafi’i)
Hati-hati dalam bertindak dapat menjadi salah satu jalan keselamatan, bukan berarti rigid atau kaku. Namun kehati-hatian bagian dari kedewasaan berfikir dan kematangan pribadi yang menghantarkan seorang insan kepada kesiapan dan ketenteraman.
Alkisah, suatu hari seorang gubernur mengutus kurir menghadap raja untuk suatu urusan kenegaraan. Istri gubernur menitipkan bingkisan berupa permata untuk permaisuri raja. Setelah itu, sang kurir membawa bingkisan berupa kain sutra indah.
Melihat kiriman itu, gubernur langsung menyitanya dan dianggap sebagai milik Negara. Istrinya tak terima. Namun dijawab sang suami, “kalau bukan istri gubernur, tak mungkin kau menerima hadiah ini. Kau telah menggunakan kesempatan untuk memperkaya diri. Kurir yang kukirim tempo hari dalam rangka urusan Negara.”
“Tapi ini hadiah balasan pribadi dari permaisuri.” ujar sang istri.
“Benar, tapi urusan kirim mengirim ini telah menggunakan fasilitas Negara,” jawab gubernur.

Sabtu, 26 Mei 2012

Ketawadhuan Abu Hanifah


Imam Abu Hanifah bercerita: “Aku belajar lima masalah dalam ibadah haji dari seorang pencukur rambut.” Berikut ini kisahnya:
Setelah aku menyelesaikan manasik haji aku pergi ke tukang cukur untuk mencukur rambutku.
Aku bertanya kepada tukang cukur: “Berapa ongkos mencukur rambut?”
Tukang cukur itu berkata: “Ini adalah ibadah, dan ibadah tidak mensyaratkan apa pun. Duduklah!” Aku pun duduk dan membelakangi kiblat.
Dia berkata: “Hadapkan wajahmu ke arah kiblat!”
Ku berikan kepalaku sebelah kiri untuk dicukur terlebih dahulu. Dia kembali berkata: “Putar kepalamu ke arah kanan.”
Maka aku pun memutar kepalaku ke arah kanan. Dia langsung mencukur rambutku dan aku diam saja. Dia berkata lagi: “Bacalah takbir (Allahu akbar)!”
Aku pun terus membaca takbir sampai dia selesai mencukur. Ketika aku berdiri dia berkata: “Mau ke mana kamu?”

Menikmati Kekalahan



Tidak pernah ada dua pemenang dalam setiap pertempuran. Sebagaimana bulan dan matahari yang tidak pernah menampakkan cahaya sama terang dalam waktu bersamaan. Satu menang dan yang lainnya harus kalah. Seperti itulah kejadiannya, dalam seluruh pertempuran. Bahkan pertempuran diri kita dengan impian-impian kita sendiri yang ingin kita taklukkan.
Sudah menjadi sifat alam bahwa kita tidak akan pernah mau dan tidak akan pernah rela untuk kalah. Karena kita dicipta sebagai pemenang. Katanya, sebagaimana tayangan film dokumenter, jutaan sel sperma berlomba untuk membuahi sel telur dan hanya ada satu pemenang dalam perlombaan itu, itulah yang menjadi kita.
Kita telah terlalu terbiasa dengan kata menang. Bahkan jauh lebih dari itu, bahwa selalu menang adalah sebuah keharusan dalam segala hal, tanpa kecuali. Karena kata kalah berarti lemah. Karena kata kalah identik dengan ketidakberdayaan atau cukuplah ia seperti kegelapan tanpa cahaya.

Keju Termahal, Kejujuran



Di antara sekian banyak jenis keju di seluruh dunia, ternyata keju jenis inilah yang terbaik. Terbaik dan termahal ditilik dari sisi manapun. Keju Swiss, keju putih, atau keju jenis apapun kalah jauh dibanding keju yang satu ini. Kejujuran.
Jika melihat elit politik negeri ini sekarang, terlalu banyak yang tak berkesempatan mencicipi lezatnya keju ini. Kejujuran, menjadi sesuatu yang mahal dan langka di antara mereka. Berkelit dengan dalih lupa, tidak kenal, atau dengan 1001 manipulasi di hadapan pengadilan manusia, membuat mereka semakin jauh dari asap kejujuran.
Di luar sana bahkan beredar sebuah keyakinan, “Sapa jujur bakal ajur” yang artinya siapa yang jujur akan hancur. Prinsip ini mungkin telah menghinggapi sebagian masyarakat kita. Tak heran korupsi menjadi hal yang bercokol pada lapisan terendah masyarakat (grass root) hingga elitnya.

Rabu, 02 Mei 2012

Kemudian, Ia Kembali…



“Bagaimana dengan keluargamu?” tanyaku dengan penuh semangat seraya merapikan jilbab yang menari-nari diterpa angin pantai yang cukup kencang. Akan tetapi perempuan cantik yang ada di hadapanku terdiam dengan senyumnya. Ada gurat kelelahan di wajahnya, membuat senyumnya seolah dipaksakan. Entah itu apa maksudnya.
“Aku belum menikah, Ra…” jawabnya kelu yang membuat semangatku tadi berubah menjadi sorot pilu.  Ternyata memang sudah sejauh itu dia menentukan langkahnya. Ah, teringat masa-masa kami bersama dulu. Masa-masa Mahasiswa yang penuh dengan semangat bergerak untuk perubahan. Penuh dengan pertarungan idealisme, namun juga dengan tawa persahabatan.
***

Fashionista dan Kontes, Syiar atau Tenar



Jika perempuan bak perhiasan, maka sebaik-baik perhiasan berharga adalah  perhiasan yang dimuliakan. Dan perempuan berharga adalah perempuan yang memuliakan dirinya dengan menjaga akidah dan akhlaqnya, karena Allah semata.
“Hijab Contest". Awalnya Reyna ragu untuk membuka situs yang dikirim melalui email oleh sahabatnya, Mitha. Tapi rasa penasaran Reyna membuatnya membaca ulang email tersebut. Email itu berisi tentang kontes yang bertujuan mensosialisasikan trend berbusana muslimah. Bukan, Reyna bukan akan mengikuti kontes tersebut, namun butik miliknya ditawari sebagai sponsor tunggal di acara tersebut. Kebetulan perusahaan Mitha sebagai media partner, dan Mitha lah yang dulu membantunya mengenal dan memperdalam Islam. Reyna yang seorang mualaf, tentu sangat terbantu sekali oleh kehadiran Mitha. Selain Mitha ada Mbak Dania yang membuatnya mengagumi  Islam.

Jumat, 20 April 2012

Belajar dari Uhud



Dalam medan Badar yang fenomenal itu pasukan muslimin yang tak seberapa banyaknya mendapatkan kegemilangan. Yang dengan itu semangat kaum muslimin membuncah, pamor di mata bangsa Arab menjadi harum. Diawali dari rencana menghalangi kafilah dagang Abu Sufyan yang membawa harta-harta Mekah. Tak disangka perang tumpah, sedangkan kaum muslimin dalam keadaan belum terlalu mapan. Namun Allah memberikan pertolongan teramat nyata, “… Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepadamu dengan seribu malaikat yang turun berturut-turut” (QS. Al Anfal: 9). Sehingga ribuan pasukan musyrikin mampu dipukul telak.