Laman

Tampilkan postingan dengan label teladan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label teladan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 18 Juni 2013

Spider-Man VS Usamah bin Zaid


Sama-sama muda, keduanya bertalenta. Kesemuanya merupakan bingkai yang merangkum beribu pesona yang unik dan menawan. Lah, tapi yang satu lahir di komik Marvel, yang satu lagi lahir di madrasah peradaban Nabi Muhammad. Yang satu muncul tiba-tiba dan langsung menyeruak media, ditiru banyak penggemar dan muda-mudi dalam menjalani laku hidup, yang satu kini namanya ‘diredupkan’ sejarah yang kian hari kian terbalik. Kejam nian.

Spider-Man dan Usamah bin Zaid. Kesemuanya memiliki prestasi dan cakupan popularitas yang besar. Keduanya sama-sama berkiprah dalam jagat kepahlawanan, heroes, bravery, dan keduanya ada sebagai produk sebuah misi. Ya, misi yang berlawanan.

Hanya Ikhlas yang Dapat Menaklukkan Iblis

 
Ibnu Qudamah menyebutkan suatu riwayat dari al Hasan berkata,”Dahulu pernah ada satu pohon yang disembah selain Allah swt maka datanglah seorang laki-laki yang mengatakan,”Aku pasti akan menebang pohon ini.” Maka ia pun mendatanginya dan ingin menebangnya semata-semata murka karena Allah. Setan yang menyerupai manusia mencoba menghampirinya dan berkata,”apa yang engkau inginkan?’ laki-laki itu menjawab,’Aku ingin menebang pohon ini yang disembah selain Allah.’ dia itu berkata,’Jika memang engkau tidak menyembahnya maka pohon yang disembah ini tidak akan merugikanmu?
Laki-laki itu berkata,’Aku pasti menebangnya.’ Dia berkata kepadanya,’apakah engkau mau sesuatu yang lebih baik daripada menebang pohon ini, jika kamu tidak menebangnya maka kamu akan mendapatkan dua dinar pada esok hari dari bawah bantalmu.’ Laki-laki itu mengatakan,’siapa yang memberikan itu kepadaku.’ Dia berkata,’aku’.

Senin, 17 Juni 2013

Berpura-pura Jadi Pengemis Demi Berguru Pada Imam Ahmad

http://statis.dakwatuna.com/wp-content/uploads/2013/05/perjalanan.jpg 
Pakaiannya compang-camping, lusuh, kusam. Ia berjalan dengan bantuan tongkat dan berpura-pura pincang. Rambut dan jenggotnya dibuat semrawut. Dengan tampang meyakinkan, tak akan ada seorang pun yang tahu bahwa ia adalah pengemis palsu. Benar, tak ada satu pun warga yang menguak identitas aslinya. Ia merupakan seorang ulama dari Andalusia (saat ini Spanyol dan negara sekitar), Imam Baqi bin Mikhlad.

Saat itu ia ingin sekali belajar pada salah satu imam empat, Imam Ahmad. Ia pun berangkat dari Eropa, menyeberangi Laut Tengah menuju Afrika, kemudian melanjutkan perjalanan panjang ke Baghdad, Irak, tempat tinggal Imam Ahmad. Tanpa kendaraan, Baqi yang saat itu masih berstatus penuntut ilmu menempuh perjalanan panjang dengan berjalan kaki. Hanya satu tujuannya, berguru pada sang imam.

Minggu, 10 Maret 2013

Kisah Pencuri Saleh


Seorang pemuda lugu menuntut ilmu kepada seorang guru fara'idh (ilmu hitung harta waris). Kehidupan ekonomi sang guru sangat pas-pasan. Dalam suatu kesempatan, sang guru berkata kepada murid-muridnya, "Kalian tidak boleh menjadi beban orang lain. Sesungguhnya orang alim yang menengadahkan tangannya kepada orang-orang yang berharta tidak ada kebaikan pada dirinya. Pergilah kalian semua dan bekerjalah seperti pekerjaan ayah kalian masing-masing. Bawalah selalu kejujuran dan ketakwaan kepada Allah dalam menjalankan pekerjaan tersebut!"

Pemuda itu tidak tahu tentang pekerjaan ayahnya yang telah meninggal. Ia pun segera pulang ke rumah untuk menanyakan hal tersebut kepada sang ibu.

Setibanya di rumah, pemuda itu menemui ibunya, lalu berkata, "Bu, tolong beri tahu kepadaku apa pekerjaan sepeninggal ayah dahulu?"

Tidak Takut Dikatakan Bodoh



Imam Malik adalah sosok alim ulama yang rendah hati. Meskipun ia selalu belajar dan menimba ilmu dari 900 orang guru, ia tidak pernah merasa dirinya paling pintar. Imam Malik berkata, "Sering kali aku tidak tidur semalam suntuk untuk memikirkan jawaban atas permasalahan yang diajukan kepadaku."

Suatu hari salah seorang muridnya datang dari suatu daerah yang jauh. Masyarakat tempat ia tinggal memiliki masalah penting yang belum terselesaikan. Sang murid bermaksud untuk menanyakan hal tersebut kepada gurunya, Imam Malik.

Akan tetapi, Imam Malik tidak bisa memberikan jawaban kepadanya karena memang beliau tidak tahu jawaban atas permasalahan tersebut. Dengan sejujurnya, beliau berkata, "Aku tidak tahu."


Senin, 04 Maret 2013

Hal-Hal Sederhana yang Tidak Mampu Kita Lakukan


Hal-Hal Sederhana yang Tidak Mampu Kita Lakukan
Diriwayatkan oleh imam Ahmad dengan sanad hasan dan oleh Nasa’i dari Anas bin Malik r.a : Ketika kami duduk-duduk bersama Rasulullah saw, bersabdalah beliau “Atas dirimu semua kini datang seorang dari penghuni syurga”. Waktu itu muncul seorang anshar dengan jenggot sedikit basah bekas air wudlu, sambil menjinjing kedua sandalnya dengan tangan kirinya. Esok harinya Nabi saw kembali berkata demikian dan muncul pula orang tersebut seperti itu lagi, muncul pula lelaki itu seperti sebelumnya.
Tatkala Nabi saw berdiri, Abdullah bin Amru bin Ash segera mengikuti orang lelaki tersebut dan berkata kepadanya “Sesungguhnya saya telah bertengkar dengan bapak saya dan bersumpah tidak akan mendatanginya selama tiga hari. Seandainya akhi (saudara) mengizinkan saya tinggal di rumah akhi selama tiga hari itu, niscaya aku akan ikut akhi pulang”, “lelaki itu menjawab “Ya silahkan”, kemudian Abdullah menceritakan bahwa selama tiga hari tinggal bersamanya, tak sekalipun ia melihat lelaki itu melakukan shalat malam, kecuali setiap lelaki itu berbalik dalam tidurnya dia menyebut nama Allah dan bertakbir hingga terbangun untuk melakukan shalat subuh. Abdullah menambahkan, “Hanya saja saya tidak mendengarnya berkata selain dengan perkatan yang baik”.

Umar bin Khattab Cerdas Mengelola Keberanian


                             

Kegelisahan melanda sebagian besar pemuka Quraisy. Gurat wajah mereka mengeras penuh beban. Kabar angin bahwa beberapa penduduk Yatsrib telah masuk Islam dan siap menampung kaum muslimin membuat mereka tak bisa lagi terlelap. Belum lagi saat Rasulullah SAW benar-benar menyuruh kaum muslimin untuk berhijrah ke negeri impian itu, mereka pun meningkatkan siksaan pada kaum muslimin yang tersisa di tanah suci. Berbondong-bondong, pelan namun pasti, kaum muslimin berhijrah dari Mekah ke Yatsrib dengan sembunyi-sembunyi. Dan pasukan Quraisy pun semakin meningkatkan penjagaan batas kotanya.

Kegelisahan itu tak terbendung lagi saat Umar bin Khattab mendeklarasikan niatnya untuk berhijrah.  Pemuda pemberani itu membawa pedang yang siap dihunuskan setiap saat, lalu shalat dan thawaf sejenak di Baitullah, sementara seluruh mata Quraisy tajam tertuju pada sosok tinggi besar itu. Usai thawaf, Umar naik ke atas bukit memandang sekeliling dengan pandangan yang teguh nan angkuh. Ia berseru lantang menciutkan hati kafir Quraisy. Ucapannya yang begitu tegas terpampang dalam sejarah orang-orang pemberani: “Barang siapa yang menginginkan istrinya menjadi janda, atau anaknya menjadi yatim, maka temui aku dibalik bukit ini!!! “.  Ucapan yang tajam bak pedang terhunus. Menginjak-injak kesombongan dan harga diri kafir Quraisy. Tidak pernah terlintas dalam pikiran mereka, bahwa sosok Umar kini benar-benar menantang keberanian mereka.

Al Quthuz, Singa Gurun di Ain Jalut




Ilustrasi (RoL)
Ilustrasi (RoL)

Gelombang Dahsyat Tar Tar

Bayangkanlah dahsyatnya kehancuran yang diakibatkan oleh gelombang Tsunami yang melanda Aceh dan Jepang beberapa tahun silam. Mayat-mayat bergelimpangan. Bangunan, pepohonan, kebun, binatang ternak, sarana umum, semuanya hancur berantakan. Kota yang tadinya ramai mendadak sepi, kelam dan berubah menjadi seperti kota hantu. Seperti itulah yg terjadi dengan negeri-negeri Islam yang terbentang dari Samarkhan hingga Baghdad ketika dilewati oleh Pasukan Mongol.

Bangsa Mongol atau Tartar telah diisyaratkan kemunculannya oleh Nabi saw. Baginda saw menyebut mereka sebagai Bani Qantura dengan ciri-ciri fisik bermuka lebar dan bermata kecil. Hanya dengan kekuatan 200.000 tentara dan berlangsung hanya dalam waktu 40 hari Kekhalifahan Abbasiyah lenyap dari muka bumi.

Kejatuhan Baghdad merupakan peristiwa sangat tragis dalam sejarah kemanusiaan. Selama 500 tahun bertahta dengan segala kebesarannya Kekhalifahan Abbasiyah Baghdad luluh lantak dihancurkan. Sebanyak 1,8 juta kaum muslimin yang berada di kota Baghdad disembelih dan kepalanya disusun menjadi gunung tengkorak sebagai peringatan bagi negara-negara yang melawan kekuatan Mongol. Khalifah Sultan Al-Mu’tasim dibantai beserta 50.000 tentara pengawalnya. Sejak pembantaian itu selama 3,5 tahun umat Islam hidup tanpa Khalifah.

Kamis, 28 Juni 2012

Berubah Dengan Mimpi-Mimpi Besar



Saya yakin, bahwa kita semua pasti menginginkan perubahan ke arah yang lebih baik. Namun tak semua orang mampu untuk menggapai dan melakukan perubahan itu. Mungkin karena ia merasa belum siap dengan perubahan, atau bisa jadi karena tidak punya nyali (lemah mental, atau tidak mau meninggalkan tabiat dan kebiasaan lama) untuk menerima perubahan itu.
Namun sebagai seorang mukmin seharusnya kita tidak lagi mempertanyakan diri kita siap atau tidak, pantas atau tidak, akan tetapi sebaliknya kita justru harus mencari dan mengejar perubahan itu, karena nasib tidak akan berpihak kepada orang yang hanya berdiam diri saja. “Innallaha la yughayyiru ma bi kaumin hatta yughayyiru ma bi anfusihim”.
Barangkali banyak kisah yang dapat mengetuk pintu hati kita. Dalam berbagai riwayat banyak yang menyimpulkan bahwa perubahan besar sering kali dilakukan oleh insan-insan yang memiliki mimpi-mimpi besar. Mereka yang sayang akan hidupnya yang sementara ini, segera mengambil keputusan untuk melakukan perubahan. Sebut saja seorang pencari hakikat kebenaran (Al-Bahits ‘an al- haqiqah) Salman Al-farisi, sahabat yang menjadi aktor penting dalam perang Khandak.

Jumat, 15 Juni 2012

Khalifah Umar dan Mahar



“Wahai Amirul mukminin, apakah yang wajib kita ikuti itu Kitab Allah ataukah ucapanmu?” seorang wanita dengan penuh keberanian melontarkan pertanyaan kepada Khalifah Umar yang baru selesai berkhutbah. Wanita itu menanggapi pernyataan Umar yang melarang memahalkan mahar. Umar membatasi mahar tidak boleh lebih dari 12 uqiyah atau setara 50 dirham. Seraya menyatakan, “Sesungguhnya kalau ada seseorang yang memberikan atau diberi mahar lebih banyak dari mahar yang diberikan Rasulullah shalallahu alaihi wasalam pastilah aku ambil kelebihannya untuk Baitul mal.”
Muslimah pemberani itu pun kemudian mengutip ayat Allah, “Dan jika kamu ingin mengganti istrimu dengan istri yang lain, sedang kamu Telah memberikan kepada seseorang di antara mereka harta yang banyak, Maka janganlah kamu mengambil kembali dari padanya barang sedikit pun. Apakah kamu akan mengambilnya kembali dengan jalan tuduhan yang dusta dan dengan (menanggung) dosa yang nyata?” (QS: an-Nisa’ [4]:20)

Kepiting Dalam Baskom


Saat menjelang malam, di sebuah tepian pantai, terlihat para nelayan sedang sibuk menangkap kepiting yg biasanya keluar dari sarang ketika matahari terbenam. Kepiting itu tampak berkeliaran & berlarian menyambut ombak.

Para nelayan sangat menikmati buruan mereka. Setelah tertangkap, binatang yg hidup di 2 alam itu segera dimasukkan ke dalam baskom. Uniknya, baskom tersebut tidak perlu diberi penutup untuk mencegah kepiting meloloskan diri.

Di dalam baskom yg berisi puluhan kepiting, terlihat kepiting yg bergerak-gerak terus, seperti hendak mencoba meloloskan diri dari baskom. Capitnya digunakan sekuat tenaga untuk mencari pegangan demi naik ke atas baskom agar bisa keluar. Satu sama lain melakukan hal yg sama. Saling dorong & saling tarik membuat kepiting itu justru tak bisa naik ke atas.

Kamis, 14 Juni 2012

Tak Sekadar Aksi


“Ah, ngapain juga? Emang ini bisa merubah keadaan? Memangnya dengan berdemo dan beli-beli aksesoris Palestina bisa membuat Palestina menang?”
Ilustrasi (inet)
Saudaraku, tahukah Anda seberapa besar arti sebuah solidaritas? Seberapa efektifkah rasa itu mencarikan jalan keluar setiap permasalahan. Mungkin Anda akan berpikir aksi-aksi solidaritas ini hanyalah sebuah kekonyolan. Apa pengaruhnya bagi Palestina kalau hanya turun dan berteriak di jalanan? Apa peduli Israel ketika bendera dan foto mereka dihinakan, diinjak lalu dibakar? Toh mereka tetap ganas menangkapi dan mengusir warga Palestina dari tanahnya. Lalu apa pula hubungannya dengan aksi menyamakan foto profil Facebook sebagai wujud solidaritas untuk tawanan Palestina?
“Ah, ngapain juga? Emang ini bisa merubah keadaan? Mungkin pertanyaan ini akan muncul di benak segelintir kita.
Sebelumnya ada sebuah berita menggembirakan untuk kita semua. Setelah melalui perundingan yang alot antara para tawanan Palestina dan pemerintah Israel dan aksi mogok makan yang mereka lakukan selama 28 hari menghasilkan kesepakatan bahwa pihak Israel bersedia melepaskan semua tawanan Palestina. Hal ini juga didukung oleh tekanan yang diberikan dunia Internasional dan keterkejutan Israel pada aksi puluhan ribu Facebookers menyamakan foto profil mereka sebagai wujud solidaritas terhadap tawanan Palestina.

Detik yang Berkualitas



Kita semua punya detik-detik berharga dalam hidup kita. Kita semua memilikinya. Namun yang sering terjadi nyatanya kita kadang terlena, terlupa, kurang terjaga bahwasanya detik yang baru saja kita lewati merupakan detik berharga. Detik berharga dalam hidup-hidup kita.
Mungkin karena kita lena tentangnya maka pada suatu waktu nanti kita akan teringat juga, teringat tentang beberapa keputusan yang kita buat di masa yang lampau. Tentang detik-detik keputusan itu.

Sabtu, 26 Mei 2012

Bukan Jomblo, Tapi Single



Assalamu’alaikum.
Ehemm, sejujurnya saya bingung nih mau mulai dari mana kalo mau nulis tentang cinta. Soalnya, masalah cinta itu rumit dan ribet, nggak kalah sama permasalahan yang ada di Indonesia. #lebayy, hehe…
Kalo ngomongin remaja, nggak jauh deh dari yang namanya cinta. Mulai dari jatuh cinta, PDKT (singkatan dari PenDeKaTan), jadian, putus, jatuh cinta lagi, PDKT lagi, jadian lagi, putus lagi, dan begitu seterusnya. Ternyata bukan cuma makanan yang punya rantai, ternyata cinta juga lohh. Hehe…
Sampe akhirnya muncullah taglinenya si Pocooong (hantu bohongan yang eksis di Twitter) yang bilang kalo “Jomblo itu nasib, Single itu prinsip.” Nahh lohh?? Ko bisa si Pocoong ngomong kaya gitu?? Ohh, ternyata zaman sekarang ini, para jomblo atau remaja yang nggak pacaran itu dibilang nggak gaul dan nggak asyik. Wahh bahaya juga nihh, pantes aja si Pocooong ngotot bilang kalo dia bukan Jomblo, tapi Single. Ckckckck.

Ketawadhuan Abu Hanifah


Imam Abu Hanifah bercerita: “Aku belajar lima masalah dalam ibadah haji dari seorang pencukur rambut.” Berikut ini kisahnya:
Setelah aku menyelesaikan manasik haji aku pergi ke tukang cukur untuk mencukur rambutku.
Aku bertanya kepada tukang cukur: “Berapa ongkos mencukur rambut?”
Tukang cukur itu berkata: “Ini adalah ibadah, dan ibadah tidak mensyaratkan apa pun. Duduklah!” Aku pun duduk dan membelakangi kiblat.
Dia berkata: “Hadapkan wajahmu ke arah kiblat!”
Ku berikan kepalaku sebelah kiri untuk dicukur terlebih dahulu. Dia kembali berkata: “Putar kepalamu ke arah kanan.”
Maka aku pun memutar kepalaku ke arah kanan. Dia langsung mencukur rambutku dan aku diam saja. Dia berkata lagi: “Bacalah takbir (Allahu akbar)!”
Aku pun terus membaca takbir sampai dia selesai mencukur. Ketika aku berdiri dia berkata: “Mau ke mana kamu?”

Rabu, 02 Mei 2012

Fashionista dan Kontes, Syiar atau Tenar



Jika perempuan bak perhiasan, maka sebaik-baik perhiasan berharga adalah  perhiasan yang dimuliakan. Dan perempuan berharga adalah perempuan yang memuliakan dirinya dengan menjaga akidah dan akhlaqnya, karena Allah semata.
“Hijab Contest". Awalnya Reyna ragu untuk membuka situs yang dikirim melalui email oleh sahabatnya, Mitha. Tapi rasa penasaran Reyna membuatnya membaca ulang email tersebut. Email itu berisi tentang kontes yang bertujuan mensosialisasikan trend berbusana muslimah. Bukan, Reyna bukan akan mengikuti kontes tersebut, namun butik miliknya ditawari sebagai sponsor tunggal di acara tersebut. Kebetulan perusahaan Mitha sebagai media partner, dan Mitha lah yang dulu membantunya mengenal dan memperdalam Islam. Reyna yang seorang mualaf, tentu sangat terbantu sekali oleh kehadiran Mitha. Selain Mitha ada Mbak Dania yang membuatnya mengagumi  Islam.

Ghirah



Dahulu, Buya Hamka menjelaskan ghirah dengan suatu istilah yang sederhana: cemburu. Ghirahadalah kecemburuan dalam beragama. Cemburu itu bukan sekedar marah atau kesal atau jengkel, melainkan perasaan tidak rela karena haknya direnggut dan berhasrat besar untuk merebut haknya kembali. Kalau tak ingin merebut kembali, bukan cemburu namanya. Itulah sebabnya orang bilang cemburu adalah tanda cinta, dan tidak ada cinta tanpa rasa cemburu. Nah, yang disebut ghirahitulah perasaan memiliki / mencintai agama secara mendalam yang kemudian terwujud dalam pembelaan yang kuat ketika agamanya dihinakan orang.
Buya Hamka mengambil sebuah perspektif yang menarik ketika bercerita tentang ghirah. Sementara pada masanya orang banyak mengelu-elukan Mahatma Gandhi, beliau justru mengingatkan semua orang bahwa Gandhi adalah tokoh yang anti Islam, dan kita sebagai Muslim tidak sepatutnya melupakan hal itu.

Pengaruh Sabar dan Shalat dalam Menyelesaikan Problematika Kehidupan



وَاسْتَعِينُواْ بِالصَّبْرِ وَالصَّلاَةِ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلاَّ عَلَى الْخَاشِعِينَ الَّذِينَ يَظُنُّونَ أَنَّهُم مُّلاَقُو رَبِّهِمْ وَأَنَّهُمْ إِلَيْهِ رَاجِعُونَ
”Dan mintalah pertolongan (kepada) Allah dengan sabar dan shalat. Dan sesungguhhya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang  khusu’ , (yaitu) orang-orang yang menyakini, bahwa mereka akan menemui Robb-nya dan bahwa mereka akan kembali kepad-Nya” (Qs. al-Baqarah: 45 -46)
Ayat di atas mengandung beberapa pelajaran:
Pelajaran Pertama:
Bahwa Allah memerintahkan seluruh hamba-Nya untuk selalu bersabar dan menegakkan shalat di dalam menghadapi segala problematika hidup.
Adapun sabar secara bahasa adalah menahan, dikatakan: ”qutila fulanun shobron“ artinya: si fulan terbunuh dalam keadan ditahan. Oleh karenanya, seseorang yang menahan diri terhadap sesuatu dikatakan orang yang sabar.

Sabtu, 07 April 2012

Janganlah Anda Merasa Orang Yang “Paling”



Sahabat sekalian, ada sebuah cerita. Seorang Professor berada dalam sebuah hutan belantara hanya berbekal pakaian di badan, kemudian di kejar serigala yang sangat ganas, lalu Professor yang cerdas itu berlari ke atas pohon dan berhasil menghindari gigitan serigala ganas itu untuk sementara waktu. Kemudian pertanyaannya adalah bagaimana caranya agar sang Professor bisa turun dengan selamat dari pohon tersebut, sedangkan serigala ganas itu terus berada di bawah pohon menunggu sang Professor turun. Apa jawabannya? Ternyata professor yang cerdas itu tidak tahu jawabannya. Walaupun ia seorang Professor.
Hikmah dari cerita fiksi ini ialah, bahwa sesungguhnya di atas langit masih ada langit, maksudnya walaupun orang yang dikejar ialah orang yang memiliki title yang sangat bergengsi Professor tapi ada batas-batas dimana ia bodoh dalam suatu hal dan tidak bisa berbuat apa-apa kecuali meminta pertolongan kepada Allah.

Petani, Imam, dan Bulu Ayam



Ini adalah kisah lama yang selalu menyentuh hati ketika kita menyadari maknanya bahwa diri ini harus terus mengingat-Nya dalam berpikir, bersikap, maupun berbicara. Sisterku, Nurr, dalam sebuah milist “islam internasional” memulai dengan nasehat dari Ibn Qayyim Al-Jawziyyah, "Membuang-buang waktu adalah Lebih buruk dari Kematian! Karena Kematian memisahkan kamu dari dunia ini, sedangkan membuang-buang waktu (menyia-nyiakan waktu) telah memisahkan kamu dari Allah”, naudzubillahi minzaliik…
Ada kisah dari sebuah negeri tentang Abdul, seorang petani yang pernah tanpa pikir panjang menyebarkan cerita gossipalias memfitnah temannya. Tapi kemudian rumor itu memang tidak benar dan Abdul berharap dapat menebus kesalahannya untuk menyembuhkan “luka panas hati akibat api yang telah dioleskan pada reputasi temannya tersebut”.
Ia mencari nasehat dari seorang Imam, seorang yang religius, terhormat dan bijaksana di kampung itu, Imam pun mendengarkan penyesalan Abdul dengan seksama.