Laman

Rabu, 02 Mei 2012

Ghirah



Dahulu, Buya Hamka menjelaskan ghirah dengan suatu istilah yang sederhana: cemburu. Ghirahadalah kecemburuan dalam beragama. Cemburu itu bukan sekedar marah atau kesal atau jengkel, melainkan perasaan tidak rela karena haknya direnggut dan berhasrat besar untuk merebut haknya kembali. Kalau tak ingin merebut kembali, bukan cemburu namanya. Itulah sebabnya orang bilang cemburu adalah tanda cinta, dan tidak ada cinta tanpa rasa cemburu. Nah, yang disebut ghirahitulah perasaan memiliki / mencintai agama secara mendalam yang kemudian terwujud dalam pembelaan yang kuat ketika agamanya dihinakan orang.
Buya Hamka mengambil sebuah perspektif yang menarik ketika bercerita tentang ghirah. Sementara pada masanya orang banyak mengelu-elukan Mahatma Gandhi, beliau justru mengingatkan semua orang bahwa Gandhi adalah tokoh yang anti Islam, dan kita sebagai Muslim tidak sepatutnya melupakan hal itu.

Pengaruh Sabar dan Shalat dalam Menyelesaikan Problematika Kehidupan



وَاسْتَعِينُواْ بِالصَّبْرِ وَالصَّلاَةِ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلاَّ عَلَى الْخَاشِعِينَ الَّذِينَ يَظُنُّونَ أَنَّهُم مُّلاَقُو رَبِّهِمْ وَأَنَّهُمْ إِلَيْهِ رَاجِعُونَ
”Dan mintalah pertolongan (kepada) Allah dengan sabar dan shalat. Dan sesungguhhya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang  khusu’ , (yaitu) orang-orang yang menyakini, bahwa mereka akan menemui Robb-nya dan bahwa mereka akan kembali kepad-Nya” (Qs. al-Baqarah: 45 -46)
Ayat di atas mengandung beberapa pelajaran:
Pelajaran Pertama:
Bahwa Allah memerintahkan seluruh hamba-Nya untuk selalu bersabar dan menegakkan shalat di dalam menghadapi segala problematika hidup.
Adapun sabar secara bahasa adalah menahan, dikatakan: ”qutila fulanun shobron“ artinya: si fulan terbunuh dalam keadan ditahan. Oleh karenanya, seseorang yang menahan diri terhadap sesuatu dikatakan orang yang sabar.

Sabtu, 21 April 2012

Iblis Datang dari Muka, Belakang, Kanan, dan Kiri Kita



Di dalam Al Qur’an, akan kita dapati sebuah rekaman dialog antara Allah SWT dengan iblis yang dihukum oleh Allah. Dalam dialog tersebut, iblis menyatakan untuk selalu menyesatkan manusia. Hal tersebut terekam dalam surat Al A’raf ayat 16-17 berikut ini:
“Iblis menjawab: ‘Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus, kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan men-dapati kebanyakan mereka bersyukur (ta’at).’” (QS. Al A’raf : 16-17)

Jumat, 20 April 2012

Belajar dari Uhud



Dalam medan Badar yang fenomenal itu pasukan muslimin yang tak seberapa banyaknya mendapatkan kegemilangan. Yang dengan itu semangat kaum muslimin membuncah, pamor di mata bangsa Arab menjadi harum. Diawali dari rencana menghalangi kafilah dagang Abu Sufyan yang membawa harta-harta Mekah. Tak disangka perang tumpah, sedangkan kaum muslimin dalam keadaan belum terlalu mapan. Namun Allah memberikan pertolongan teramat nyata, “… Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepadamu dengan seribu malaikat yang turun berturut-turut” (QS. Al Anfal: 9). Sehingga ribuan pasukan musyrikin mampu dipukul telak.

Mau Tahu Amalan yang Paling Dicintai oleh Allah?



Ketika kita mengerjakan shalat fardhu (Subuh, Zhuhur, Ashar, Maghrib, & Isya), ternyata kita bisa mendapatkan suatu amalan yang paling dicintai oleh Allah SWT dibanding dengan amalan-amalan lain. Bayangkan amalan ini lebih dicintai oleh Allah SWT dibanding dengan Berjihad dijalan Allah dan Berbakti kepada orang tua. Subhanallah bukan?
Ya, amalan ini memang gampang-gampang sulit, tetapi ketika kita benar-benar bertekad dan meluruskan niat, insya Allah amalan yang satu ini sangat mudah dilaksanakan.

Dialog Ikhwan (Sok) Stabil Dengan Ikhwan (Agak) Labil



Selepas shalat Zhuhur, para ikhwan tidak langsung beranjak dari masjid. Seperti biasa, mereka saling membentuk kelompok-kelompok kecil dan memperbincangkan banyak hal. Begitu pula yang kini dilakukan akh Simun dan akh Afik di pojok masjid.
“Assalamu’alaikum. Gimana kabarnya, Akhi?”
“Wa’alaikumussalam. Alhamdulillah, akh. Tetap berseri sebagaimana mentari di pagi hari. By the way, ada apa nih, akh? Tumben-tumbennya mukanya kusut begitu.”
“Muka ane emang begini, akh.”