Laman

Sabtu, 07 April 2012

Petani, Imam, dan Bulu Ayam



Ini adalah kisah lama yang selalu menyentuh hati ketika kita menyadari maknanya bahwa diri ini harus terus mengingat-Nya dalam berpikir, bersikap, maupun berbicara. Sisterku, Nurr, dalam sebuah milist “islam internasional” memulai dengan nasehat dari Ibn Qayyim Al-Jawziyyah, "Membuang-buang waktu adalah Lebih buruk dari Kematian! Karena Kematian memisahkan kamu dari dunia ini, sedangkan membuang-buang waktu (menyia-nyiakan waktu) telah memisahkan kamu dari Allah”, naudzubillahi minzaliik…
Ada kisah dari sebuah negeri tentang Abdul, seorang petani yang pernah tanpa pikir panjang menyebarkan cerita gossipalias memfitnah temannya. Tapi kemudian rumor itu memang tidak benar dan Abdul berharap dapat menebus kesalahannya untuk menyembuhkan “luka panas hati akibat api yang telah dioleskan pada reputasi temannya tersebut”.
Ia mencari nasehat dari seorang Imam, seorang yang religius, terhormat dan bijaksana di kampung itu, Imam pun mendengarkan penyesalan Abdul dengan seksama.

Hidupkan Hati, Bangun Peradaban



Mari kita merenung sejenak, bagaimana perasaan kita ketika melihat tanah gersang tanpa tanaman? Mungkin hati akan bergetar dan bertanya, siapa pemilik tanah tersebut? Mengapa tanah itu dibiarkan kering dan mati? Semua orang ketika melihat tanah seperti itu umumnya merasa tidak nyaman. Boleh jadi akan muncul keinginan untuk menghidupkan tanah tersebut dengan cara menanaminya hingga tampak hijau. Keinginan tersebut merupakan fitrah Rabbaniyah yang ada dalam setiap manusia.
Fitrah tersebut, misalnya, bisa dilihat dari menggeloranya gerakan “Go Green”, sebuah gerakan yang mengajak setiap manusia untuk menanam pohon demi kelestarian bumi. Gerakan ini mendapat sambutan luar biasa dari seluruh penjuru dunia. Mereka menyambutnya karena memang gerakan itu sesuai dengan dorongan hati mereka.

10 Golongan yang Tidak Masuk Surga



Ibnu Abas r.a. berkata bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda, “Ada sepuluh golongan dari umatku yang tidak akan masuk surga, kecuali bagi yang bertobat. Mereka itu adalah al-qalla’, al-jayyuf, al-qattat, ad-daibub, ad-dayyus, shahibul arthabah, shahibul qubah, al-’utul, az-zanim, dan al-’aq li walidaih.

Kamis, 05 April 2012

500.000 atau 1.700.000



Ketika dunia sudah semakin menua. Dan penduduknya pun sudah semakin menggila; gila harta, gila jabatan, gila penghormatan, dan lain sebagainya. Sehingga kalau kita disodorkan pada 2 pilihan, kebanyakan akan cenderung memilih pilihan yang paling menguntungkan. Tanpa pikir panjang. Namun, tentunya tidak semua. Karena masih ada segelintir orang yang ‘waras’.
Seorang teman pernah mengajar di sebuah pesantren yang jauh dari tempat asalnya di Tangerang. Ia ditugaskan ke Aceh selama kurang lebih satu tahun lamanya, dengan upah Rp 500.000 (lima ratus ribu rupiah) setiap bulannya. Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, bulan berganti tahun. Singkat cerita, tertunaikan sudah amanah yang dipikulnya. Dan tiba saatnya untuk kembali ke kampung halamannya, Tangerang.
Ketika pulang, ia pun mendapat tawaran untuk mengajar lagi di sebuah pesantren yang tidak terlalu jauh dari kota tempat tinggalnya. Dengan upah Rp 1.700.000 (satu juta tujuh ratus ribu rupiah) perbulan. Tiga kali lipat lebih banyak dibandingkan dengan upah saat mengajar di Aceh. Namun apa yang terjadi? Ia hanya bisa bertahan selama 1 minggu! Ada apa gerangan? Dari segi fasilitas jauh lebih bagus, ketika mengajar di Aceh tempat tinggalnya amat sangat sederhana, sandal pun ‘halal’ masuk sampai sisi dipan tempat tidur. Ketika di Aceh kasurnya tipis, di tempat mengajarnya yang baru kasurnya tebal, tentu lebih nyaman untuk istirahat. Masalah makan, ketika di Aceh masak sendiri, belanja bahan-bahannya sendiri. Di tempat mengajarnya yang baru, makanan siap tinggal santap! Ketika di Aceh, kalau ada santri yang dijenguk oleh keluarganya, biasanya sebatas makanan-makanan ringan seperti kue-kue kering yang dibawa. Tapi di tempat mengajarnya yang baru, yang dibawa adalah makanan-makanan junk food! Seperti KFC dan sejenisnya. Dan otomatis ada jatah khusus untuk ustadznya.

Mari Membiasakan Diri tidak Mengeluh



Apa yang terjadi pada Anda tidak penting. Yang penting adalah apa yang Anda lakukan terhadap apa yang terjadi pada Anda.” (DR. Robert Schuler)
Hidup adalah proses panjang melelahkan yang penuh coba dan goda, seperti dunia yang bagaikan penjara bagi mereka yang bertaqwa. Karena bagi pencari keridhaan Yang Esa, kalaupun dia hartawan atau hanya sabar dan syukurlah perhiasan yang dia punya. Tidaklah semua itu berharga, melainkan hanya cicipan ala kadarnya dari surga yang kenikmatannya abadi tiada tara.
Dalam The Way To Win karya Solikhin Abu Izzuddin dikisahkan, pada suatu hari sebagai qadhi-semacam hakim agung tingkat nasional- ia berkendara keledai yang bagus (Mitshubishi kuda kalau sekarang). Pakaiannya bagus, performanya meyakinkan. Saat melintas di sebuah pasar tiba-tiba seorang Yahudi pedagang minyak menghadang. Memegang tali keledai sang Imam seraya berkata, “Ya Syaikhul Islam, Anda menyatakan bahwa Nabimu bersabda, ‘dunia itu penjara orang beriman dan surganya orang kafir’. Dengan penampilan Anda yang seperti ini, Anda dipenjara seperti apa? Dan dengan keadaan saya yang seperti ini, saya berada di surga seperti apa?

Sudah Dimana Kita?



Saya yakin semua kita kenal dengan sebuah permainan yang pemenangnya hanya ditentukan nasib oleh enam sisi dadu.  Ya permainan ular tangga kawan!! Untuk memenangkan permainan ini anda tak perlu punya keahlian apa-apa, tak perlu punya keterampilan apa-apa, kecuali mampu mengocok dadu dan melemparkannya, anda bisa menang, atau juga kalah. Ini benar-benar hanya untung-untungan. Kadang hanya dengan tiga empat kali naik tangga, anda sudah ada di lajur teratas, selangkah menuju finish. Tapi lebih sering kita telah jauh berjalan, telah lama berputar-putar, bahkan sudah malas rasanya tangan ini melemparkan dadu, tapi tetap saja kita di situ, progres kita seperti jalan di tempat, kerja kita hanya naik tangga dan dan kemudian menuruni badan ular dari ekor ke kepalanya, tanpa jelas kapan kita akan finish.