KEBIASAAN orang-orang besar yang dekat dengan Allah swt. adalah berjalan-jalan
di sekelilingnya. Bukan sekadar berjalan-jalan belaka, tapi lebih untuk melihat
dari dekat apa yang sedang terjadi. Biasanya mereka menjadikan semua itu sebagai
perenungan lain. Begitu pula dengan Imam Abu Hanifah.
Suatu hari, ketika
Imam Abu Hanifah tengah melakukan kebiasaannya itu, ia melewati sebuah rumah.
Rumah itu terletak di pedesaan. Jendelanya terbuka. Tanpa diduga, dari dalam
rumah tersebut terdengar suara orang mengeluh dan menangis. Cukup keras. Abu
Hanifah mencoba mendekat, agar bisa mendengar lebih jelas. Ia melakukannya
dengan perlahan-lahan, seolah tidak ingin diketahui oleh empunya rumah.





