Di Thaif, lelaki mulia itu terluka. Zaid bin Haritsah yang mendampinginya pun
ikut berdarah ketika berusaha memberikan perlindungan. Penduduk negeri itu
melemparinya dengan batu. Padahal, ajakannya adalah ajakan tauhid. Seruannya
adalah seruan untuk mengesakan Allah. "Agar Allah diesakan dan tidak disekutukan
dengan apapun." Namun, Bani Tsaqif malah memusuhinya. Pejabat negeri itu
menghasut khalayak ramai untuk menyambutnya dengan cercaan dan timpukan batu.
Meski diperlakukan sedemikian kasar, Rasulullah tetap pemaaf.
Kecintaannya kepada umat mengobati derita yang dialaminya. Beliau menolak
tawaran Jibril yang siap mengazab penduduk Thaif dengan himpitan gunung.
Sebaliknya, ia mendoakan kebaikan bagi kaum yang mencemoohnya itu, “Ya Allah,
berilah kaumku hidayah, sebab mereka belum tahu.”





